Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 19:45 WIB
Pemotongan Ayam agar Dipindah
| Sabtu, 15 Maret 2008 | 12:12 WIB
|
Share:

Semarang, Kompas - Penduduk Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, mendesak Pemerintah Kota Semarang agar segera memindahkan pemotongan ayam yang berada di Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong. Limbah pemotongan setiap hari mengotori perkampungan dan membuat bau tidak sedap.

Hal ini antara lain diungkapkan Yanti (36), warga RT 03 RW 05 Kampung Kepatihan, Kelurahan Rejomulyo, Jumat (14/3). Yanti mengatakan, sudah beberapa tahun ini masyarakat terganggu dengan limbah ayam yang mengendap di saluran air perkampungan, disertai bau tak sedap.

"Bulu dan darah ayam mengendap di saluran air. Selain tidak sehat, kondisi ini menyebabkan lingkungan perkampungan berbau tidak sedap. Kami berharap pemotongan ayam segera dipindahkan dari Kelurahan Rejomulyo," kata Yanti. Menurutnya, masalah ini sering dibahas di pertemuan warga.

Linda (40), warga RT 04 RW 04 Kampung Kepatihan, juga mengeluhkan limbah pemotongan ayam yang berbau. "Bau menyengat biasanya mulai pukul 18.00. Limbah berupa darah dan bulu ikut terbawa aliran air. Kondisi semakin buruk ketika banjir dan air di beberapa saluran meluap," ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera memindahkan lokasi pemotongan ayam yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman itu. Menurut Linda, warga sangat khawatir dengan kesehatan mereka, terutama anak-anak, jika setiap hari limbah mengalir ke perkampungan.

Kampung lain di Rejomulyo yang juga terkena dampak limbah pemotongan ayam tersebut antara lain Kampung Grogolan, Bedug, dan Gedongsari.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang Ari Purbono mengatakan, pemotongan ayam akan dipindahkan ke Penggaron sekitar tahun 2009. "Tahun ini rencananya pembangunan rumah pemotongan di Penggaron akan dimulai," kata Ari.

Menurutnya, pemkot sangat lambat menangani permasalahan tersebut. Sebenarnya pemkot sudah mengajukan dana sekitar Rp 20 miliar ke DPRD Kota Semarang pada 2007. Namun, hingga saat ini pembangunan belum juga dimulai. Dana pembangunan merupakan pinjaman dari sebuah bank.

"Nota kesepahaman (MOU) utang saat ini sudah ditandatangani pemkot dan pihak ketiga. Pedagang ayam di Pasar Rejomulyo sudah tahu mereka akan dipindahkan. Soal setuju atau tidak, rencana tetap berjalan demi kesehatan warga perkampungan di sekitar pasar," kata Ari.

Sementara ini, katanya, pemkot harus segera mencari cara untuk menampung limbah pemotongan.

Setelah pemotongan ayam direlokasi, rencananya pasar tersebut akan digunakan sebagai pasar buah dan sayur. Pasar ikan akan tetap dipertahankan di tempat itu. (A08)