Kamis, 24 Juli 2014

News / Sains

Perburuan Liar Ancam Macan Tutul di Ujung Kulon

Selasa, 6 Mei 2008 | 21:11 WIB

PANDEGLANG, SELASA - Macan tutul (Phantera pardus) yang termasuk binatang buas di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten, terancam punah akibat perburuan yang dilakukan warga setempat.

"Saat ini jumlah macan tutul hanya 200 ekor, padahal tahun lalu mencapai 700 ekor," kata Humas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Enjat Sudrajat, Senin (5/5). Menurut dia, menyusutnya populasi macan tutul itu akibat adanya perburuan yang dilakukan warga sekitar TNUK. Hasil perburuan mereka dijual ke Jakarta berupa kulit atau taring dengan harga Rp7 juta sampai Rp8 juta.

Belum lama ini, ujar dia, aparat kepolisian mengamankan dua pelaku perburuan macan tutul beserta barang bukti berupa kulit dan taring. Bahkan, salah satu pelaku Udin (35) warga Desa Cibadak, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, diamankan beserta barang bukti berupa hasil perburuan berupa kulit macan tutul yang sudah dikeringkan.

"Kulit macan tutul itu rencana mau dijual ke Jakarta dengan harga Rp7 juta/lembar juga senjata api rakitan berikut amunisinya oleh Polres Pandeglang," katanya. Selain itu, ujar dia, perburuan satwa langka itu bukan hanya macan tutul saja, melainkan bintang lain seperti burung, banteng, badak, penyu, dan ikan.

Ia mengatakan, untuk mencegah terjadi perburuan hewan langka yang dilindungi pemerintah maka pihaknya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi terhadap warga yang tinggal di sekitar TNUK. Akan tetapi, hingga saat ini warga setempat tetap belum menyadari pentingnya satwa langka itu yang harus dilindungi supaya jangan punah, katanya.

"Kalau satwa langka itu punah, tentu yang rugi anak cucu kita," kata dia. Lebih lanjut ia mengatakan, macan tutul meskipun berukuran lebih kecil dari harimau Sumatera namun binatang itu sangat buas juga tampak kokoh.

Adapun ciri-ciri macan tutul itu, lanjut dia, tubuhnya tertutup mantel rambut pendek tebal berwarna dasar kuning kecoklatan dengan pola totol hitam yang berbentuk seperti bunga.

"Biasanya, satwa ini menyerang mangsa dari persembunyiannya di atas pohon dan mematikan mangsanya dengan cara menggigit pada leher dan mendorongnya hingga roboh," kata Enjat Sudrajat.


Editor :
Sumber: