Oleh Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA memang selalu punya cerita. Susurilah setiap sudut hingga ke pinggiran kota metropolitan ini, akan banyak kisah yang datang dari para penghuninya, yang asli Betawi maupun pendatang. Seperti cerita yang dimiliki warga kawasan Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, berikut.
Dijumpai Senin (11/8), tiga orang ibu asyik bergosip. Tempatnya? Ini dia uniknya, kamar mandi umum yang mereka sebut MCK (singkatan mandi, cuci, kakus)! MCK itu terletak di pinggir Kali Ciliwung yang melintasi kawasan tersebut.
Suminah, Sumiati, dan Soraya adalah warga asli Jalan Inspeksi, Kenari II, RT 14 RW 03. Setiap pagi hingga siang hari, mereka punya jadwal rutin di MCK yang terdiri dari enam kamar mandi itu. Sehabis mandi, aktivitas wajibnya adalah mencuci massal.
Saat ditanya, apa sih kata-kata yang kerap muncul di MCK itu, serentak ketiganya menjawab, "Wooee... mandinye cepet dikit nape?" kata mereka dengan logat Betawi. "Kalau kagak gitu, mandinye lama. Kagak tau diri, orang pada ngantre," sambung Soraya.
Soraya tak menyangkal bahwa MCK itu menjadi tempat favorit para ibu di lingkungannya untuk berkumpul. Sebuah kursi kayu panjang pun disediakan di sana. Fungsinya, untuk tempat duduk sembari menunggu giliran mandi atau mencuci.
Dalam masa 'penantian' itu, biasanya segala hal jadi obrolan khas ibu-ibu. Kata mereka, mulai dari harga cabai, beras, hingga listrik mati. "Di sini ada beberapa yang enggak punya kamar mandi. Jadi ya, semua-muanya di sini. Kayak saya. Di rumah enggak ada kamar mandi. Nyuci, mandi, masak, semua yang butuh air ke sini deh," kata Suminah, yang juga menerima order mencuci dari tetangganya.
Bisa dibilang, Suminah yang paling sering berada di MCK itu, mulai pukul 03.00 hingga menjelang tengah hari. Seluruh anggota keluarga Suminah, suami dan enam anaknya, bergantung pada MCK sepanjang urusan yang menyangkut air. Demikian pula Sumiati. Ibu empat anak itu mengatakan, rumahnya berada di gang 'senggol' (sempit) di kawasan Kenari.
Kenapa tak membuat kamar mandi? "Lah, gimana mau buat, nyari saluran airnya susah. Ya udah, ada MCK dimanfaatin. Susahnya kalo tengah malem mau ke kamar mandi kadang-kadang ya pake kaleng, ha-ha," cerita Sumiati jujur.
MCK tersebut telah berada di kawasan itu lebih dari 20 tahun. Saat itu, warga membangun secara gotong royong dan bersinergi dengan program ABRI Masuk Desa (AMD). "Kalo ngurasnye, ya siapa aje. Ada sumbangan sukarela dari warga juga buat beli pembersih," kata Soraya, yang mantan Ketua RT 14 ini.
Suka dukanya, menurut Soraya, kalau harus menunggu lama dalam antrean. Selebihnya, ia mengaku senang dan seru bercengkerama dengan tetangganya di MCK.
Masing-masing kamar mandi berukuran mungil, sekitar 1 x 3 meter. Di sisi kanan ada tiga kamar mandi, demikian pula di sisi kirinya. Di tengah-tengah antara keduanya terdapat tempat untuk mencuci dan sebuah pompa air.
Di sepanjang Jalan Inspeksi, Kenari, sendiri terdapat tak kurang dari lima titik MCK dengan masing-masing enam kamar mandi. Tertarik mencoba? "Siapa aja boleh pake kok, enggak cuma warga. Jadi, kalo lewat tiba-tiba pengin ke kamar mandi mampir aja, ha-ha-ha," ujar Suminah dengan tawa lebarnya.
Syaratnya satu: "Jagalah kebersihan. Barang yang belum dipakai jangan ditaruh di sini, mengganggu keindahan MCK", sesuai papan imbauan berlatar putih yang digantung di MCK itu.
