MALANG, RABU - Pemerintah Kota Malang mulai serius menggalakkan sumur resapan guna mencegah penurunan debit air tanah. Sumur resapan juga dinilai bisa mencegah limpasan air yang selama ini menjadi penyebab banjir.
"Tahun 2008 ini sudah ada lima kelurahan yang menjadi percontohan sumur resapan. Dengan adanya sumur resapan ini, diharapkan saat musim kemarau kita tidak kekeringan," tutur Kepala Dinas Pengawasan Bangunan dan Pengendalian Lingkungan (Wasbangdaling) Kota Malang, Subari, Rabu (19/11) di Malang.
Sumur resapan yang dibangun tahun 2008 ini yaitu di Kelurahan Tanjung (sebuah sumur resapan), Kelurahan Pisang Candi (tiga sumur), Kelurahan Gadang (sebuah sumur), Kelurahan Bandulan (dua sumur), dan Kelurahan Purwodadi.
Menurut Subari selain di kelurahan-kelurahan tersebut, seharusnya sumur resapan dimiliki setiap rumah dengan luasan 120 meter persegi sebagaimana diamanatkan dalam advice planning (AP).
Ke depan, Subari mengatakan sumur resapan tidak hanya menjadi syarat membangun rumah, namun juga menjadi salah satu program di setiap sekolah. Minimal diharapkan ada empat sumur resapan di setiap sekolah.
Akan tetapi membuat sumur resapan memang tidak mudarh. Bisa menelan biaya Rp 3-5 juta per sumur. "Ini yang kadang membuat masyarakat enggan membuatnya. Padahal fungsi sumur resapan cukup banyak yaitu bisa meresapkan air hujan agar tidak melimpas dan menyebabkan banjir, serta menjaga kesinambungan air tanah di Malang yang terus menurun debitnya," ujar Subari.
Penurunan air tanah di Kota Malang sudah terjadi sebagaimana dituturkan warga RW 6 Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang beberapa waktu lalu. Widodo, salah seorang anggota karang taruna RW 6, mengatakan jika sebelumnya untuk membuat sumur warga cukup menggali 9-10 meter (m), maka belakangan ini mereka harus menggali lebih dalam hingga kedalaman 17 m.
Penipisan air bawah tanah di Malang jauh-jauh hari telah dikatakan oleh dosen Jurusan Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Dr M Bisri. Menurutnya, penipisan air bawah tanah (ABT) terjadi karena setiap hari ABT yang tersimpan di lapisan aquifer bebas terus dimanfaatkan orang.
Sementara di satu sisi, air yang berasal dari atas (air hujan atau air yang telah dimanfaatkan manusia) sulit masuk ke dalam tanah akibat tutupan lahan di kota Malang yang terus bertambah.
