Cornelius Helmy Herlambang | Selasa, 16 Desember 2008 | 21:45 WIB
|
Share:
Rizky Abror
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta rombongan terjebak kemacetan akibat hujan deras dan banjir setinggi lutut di kawasan Sarinah, Jakarta, Jumat (1/2). Presiden pun turun dari mobil sedannya dan pindah ke mobil jeep Pasukan Pengamanan Presiden yang lebih tinggi. Rumah Tangga Kepresidenan/Rizky Abror 01-02-2008
Kristianto Purnomo
Lalu lintas kendaraan bermotor macet total akibat banjir setinggi pinggang orang dewasa yang memutuskan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (1/2). Hujan deras yang berlangsung sepanjang siang mengakibatkan banjir melanda beberapa wilayah di Jakarta
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Dengan menggunakan ban dan gabus, tiga anak Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, bermain air banjir yang menggenangi kampung mereka
Kompas Cyber Media/Kristianto Pu
Seorang anak tengah bermain telepon umum yang ikut terendam di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (2/1). Akibat hujan turun sejak semalam, air sungai Ciliwung meluap dan merendam dua RW di Kampung Melayu sejak pukul 02.30 wib. Kristianto Purnomo 2/1/2008
BANDUNG, SELASA — Hidrolog Universitas Padjadjaran Chay Asdak mengatakan, permasalahan utama banjir Jakarta sebenarnya bukan di kawasan Bopunjur. Pertumbuhan pesat di Depok diklaim sebagai penyebab utama kejadian banjir di Jakarta.
"Laju air dari Bopunjur yang masuk ke melalui Sungai Ciliwung di Jakarta hanya sekitar 15 persen. Paling banyak justru dari wilayah Depok. Banyaknya situ atau penampungan air alam yang berubah fungsi menjadi permukiman menyebabkan aliran air permukaan lebih deras ke Jakarta," katanya pada Selasa (16/12) di Bandung.
Chay mengatakan, dari data tahun 1990-1999, di wilayah ini marak terjadi perubahan tata guna lahan yang dianggap menjadi pemicu banjir di antaranya peningkatan lahan pembangunan gedung dan perumahan dari 1.613 hektar menjadi 7.058 hektar dan peningkatan lahan kering pada periode tahun yang sama dari 2.330 hektar menjadi 6.267 hektar.