JAKARTA, RABU — PT Palyja meminta Pemprov DKI menaikkan tarif air minum untuk rumah tangga sebesar 22,7 persen. Alasannya, dalam dua tahun terakhir tarif tidak dinaikkan. Kenaikan tarif juga untuk memungkinkan Palyja bisa melakukan investasi lanjutan.
Komisaris PT Palyja, Bernard Lafrogne, mengemukakan hal itu di Balaikota, Rabu (7/1), setelah bertemu Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Lafrogne datang bersama delegasi dari Paris. Palyja bersama PT Aerta merupakan mitra asing PAM Jaya.
Palyja telah menyusun program kerja lima tahunan (rebasing) pada akhir 2008 dan telah diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta. Sesuai klausul rebasing, Palyja akan menanamkan investasi sebesar Rp 856 miliar untuk periode 2009-2012. Dana investasi itu akan digunakan untuk peningkatan pelayanan kepada pelanggan, peningkatan kualitas air bersih, serta perbaikan pipa dan penyambungan saluran baru.
Namun, dengan nilai investasi itu Bernard berharap ada timbal balik. “Dengan investasi itu, perlu ada penyesuaian kenaikan tarif. Sebab sudah dua tahun tidak ada peningkatan tarif air. Kami sudah minta kepada gubernur,” kata Lafrogne. Permintaan kenaikan tarif ini juga tertuang dalam rebasing periode 2009-2012.
Usulan kenaikan itu juga memperhitungkan laju angka inflasi. Menurut Lafrogne, selama dua tahun terakhir, nilai inflasi di Indonesia hampir mencapai 20 persen. Kenaikan inflasi mengakibatkan biaya produksi dan distribusi juga turut naik. Jika PT Palyja tidak menaikkan tarif maka perusahaan asal Paris ini akan merugi. Namun, keputusan akhir untuk menaikkan tarif air berada di tangan gubernur. “Seperti biasa keputusan terakhir bukan di saya tapi di Gubernur,” kata dia.
Kenaikan tarif air terakhir terjadi pada Januari 2007 yaitu sebesar 9,7 persen. Sesuai perjanjian awal antara PAM Jaya dan dua mitra asingnya, tarif air seharusnya mengalami kenaikan otomatis setiap enam bulan, yaitu pada Juli 2007 dan Januari 2008. Namun, hingga tahun 2008 berakhir, Pemprov DKI belum juga menaikkan tarif.
Terhadap permintaan Palyja itu, Gubernur DKI Fauzi Bowo berkata, "Saya tidak mau berkomentar tentang hal itu. Karena rebasing dua operator air minum belum selesai,” kata Fauzi Bowo. Menurut dia, seharusnya rebasing kedua operator harus selesai pada awal tahun 2009. Namun, hingga memasuki minggu kedua hanya Palyja yang menyelesaikan rebasing, sedangkan PT Aetra hingga saat ini belum.
