Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 19:53 WIB
PLN: TDL Boleh Turun asal Subsidi Ditambah
Gentur Putro Jati | Minggu, 11 Januari 2009 | 15:37 WIB
|
Share:

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Lampu penerangan bertenaga matahari dan angin terpasang di Kawasan Pantai di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, seperti terlihat pada akhir Oktober. Di Jakarta, angin dan sinar matahari belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pembangkit listrik bagi penerangan umum di luar ruangan.

TERKAIT:

JAKARTA, MINGGU — PT PLN (Persero) menyanggupi penurunan tarif dasar listrik (TDL) asalkan subsidi listrik yang digelontorkan pemerintah diperbesar.

Setio Anggoro Dewo, Direktur Keuangan PLN, mengatakan kalau pemerintah tidak menambah uang subsidi, perusahaan akan bertambah kerugiannya. Makanya untuk mengurangi kerugian tersebut, PLN akan memperkuat neraca keuangannya.

Dalam catatan Dewo, saat ini biaya pokok produksi (BPP) listrik Rp 1.300 per kwh. Namun, di jual kepada masyarakat dengan harga Rp 650 per kwh sehingga subsidi yang diberikan pemerintah adalah sebesar separuh dari BPP tersebut.

"Kalau harga jualnya mau turun, berarti harus ada dana untuk menutup selisih yang semakin besar," kata Dewo, Jumat (9/1). Jadi, salah satu alternatif untuk menutupi selisih yang semakin besar adalah dengan menambah subsidi.

Sebelumnya, pemerintah meminta PLN untuk menurunkan TDL untuk dapat mendongkrak pertumbuhan perekonomian. Pasalnya, kebijakan menurunkan harga BBM bersubsidi sebanyak dua kali yang diambil pemerintah ternyata tidak banyak mendongkrak ekonomi. Lucunya, selama ini PLN tidak berniat menurunkan TDL, tetapi justru berencana menaikkannya pada 2010.

Dewo menambahkan, saat ini manajemen masih menghitung besarnya tambahan subsidi yang diperlukan jika pemerintah benar-benar menurunkan TDL. Pastinya subsidi listrik yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 45,9 triliun dengan catatan domestic market obligation (DMO) batu bara 30 persen bisa terealisasi. "Kalau tidak tercapai, pemerintah harus menambah subsidi lagi Rp 5 triliun," tandasnya.

Tahun lalu realisasi subsidi listrik hanya sebesar Rp 75 triliun, dari yang dianggarkan Rp 83 triliun. "Lebih rendah karena pemerintah memotongnya untuk memenuhi anggaran pendidikan 20 persen," kata Dewo. (Kontan)

Sumber :
KONTAN