Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 19:58 WIB
FLU BURUNG
Dikhawatirkan Terjadi Mutasi Virus AI
| Rabu, 25 Februari 2009 | 00:49 WIB
|
Share:

Jakarta, Kompas - Saat ini dikhawatirkan telah terjadi mutasi virus flu burung atau avian influenza. Hal itu disebabkan ditemukan virus flu burung pada ayam kampung di pasar di Surabaya dengan struktur virus menyerupai subcluster Jabodetabek.

”Padahal, pola perdagangan unggas dari Jatim ke Jabodetabek, bukan sebaliknya,” ujar Kepala Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga CA Nidom di Surabaya saat dia dihubungi dari Jakarta pada hari Selasa (24/2).

Selama ini subcluster di Jatim adalah 2.1.1 di mana virus hanya menginfeksi hewan. Kenyataannya virus yang ditemukan itu termasuk subcluster 2.1.3 yang biasa ditemukan di Jabodetabek—virus ini bisa menginfeksi hewan dan manusia.

Nidom menambahkan, surveilans flu burung perlu segera dilakukan untuk mengetahui bentuk terakhir virus. Selain pada unggas, surveilans perlu dilakukan pada babi dan monyet yang juga bisa membawa virus tersebut.

Penyebaran flu burung selama ini diduga melalui lalu lintas perdagangan unggas dan di pasar tradisional. Namun, kemungkinan penularan melalui air di daerah aliran sungai perlu diwaspadai. Menurut Nidom, ”Kami sedang meneliti itu sebab ada koneksitas atau kemiripan struktur virus antardaerah di sekitar aliran sungai.”

Desentralisasi

Perkembangan flu burung di Indonesia ditengarai bersifat sporadis dan pola penyebaran virusnya khas di setiap daerah atau bersifat lokal spesifik. Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah daerah dalam pengendalian flu burung perlu ditingkatkan.

”Penanganan flu burung kini terdesentralisasi,” ujar Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Bayu Krisnamurthi.

Pada kasus flu burung di Jawa Timur ditemukan unggas di pasar positif flu burung dan ada kucing yang juga terinfeksi virus flu burung. Di Bekasi, di lingkungan sekitar pasien flu burung ada ayam yang mati.

”Jadi, situasinya setiap daerah berbeda dengan pola sporadis atau tidak terduga,” kata Bayu.

Di Bogor, misalnya, pasien tidak ada kontak dengan unggas mati, tetapi ada unggas yang tampak sehat dan ada kotoran di sekitar rumah korban.

Sayangnya masalah flu burung belum menjadi prioritas di banyak daerah, khususnya alokasi anggaran. Juga baru sedikit pemda yang menerbitkan peraturan daerah tentang pengendalian flu burung. ”Perlu upaya preventif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan flu burung,” ujarnya.

Saat ini secara kumulatif, jumlah kasus flu burung pada manusia di Indonesia 145 kasus, 119 orang meninggal. Tiga tahun terakhir, rata-rata kasus pada manusia Januari-Februari 11 kasus, 9 orang meninggal.

”Pada Januari-Februari 2009, ada 4 kasus, semuanya meninggal,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, menurut Nidom, meningkatnya kasus flu burung belakangan ini selain dipengaruhi musim dan wilayah penularan juga akibat provokasi, yaitu penggunaan vaksin secara sembarangan.

Kasus Madiun

Sementara itu, pemilik unggas di RT 19 dan 20 RW 2, Dusun Ngandong, Kabupaten Madiun, Jatim, dianjurkan memusnahkan unggasnya agar virus flu burung tidak meluas ke daerah lain. Kematian unggas akibat flu burung di sana masih terjadi sampai Selasa sehingga total 79 unggas mati.

Sedikitnya tiga ekor ayam milik Yitno mati mendadak kemarin. Ayam-ayam ini dibakar dan dikubur olehnya. Populasi unggas yang masih hidup 73 ekor.

Kondisi ini mendorong dinas peternakan setempat menganjurkan ke pemilik unggas agar mau memusnahkan unggasnya.

”Ini sebagai langkah pencegahan agar virus tidak meluas,” kata Kepala Subdinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun drh Lilin Syarifah. Penyemprotan desinfektan tidak efektif dilakukan karena warga terlambat, baru pada hari kelima. Sementara itu, warga meminta ada kompensasi untuk pemusnahan. (EVY/APA)