Jumat, 25 April 2014

News / Megapolitan

Dari Tukang Becak Jadi Agen Koran Sukses

Senin, 2 Maret 2009 | 11:00 WIB

Baca juga

Menjadi agen koran bukanlah cita-cita Haji Idjo (52). Ia bahkan pernah putus asa lantaran tidak bisa melanjutkan sekolah di tingkat sekolah dasar. Namun, berkat kegigihannya, Idjo bisa menggapai sukses sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya dan pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Bermula dari bekerja sebagai pengecer minyak tanah pada awal tahun 1970-an di daerah Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Idjo kemudian beralih profesi menjadi tukang becak. Awal tahun 1980-an, Idjo hijrah ke daerah Pondok Gede dan mangkal di Pasar Pondok Gede. Di pasar itulah Idjo mengenal dunia loper koran. Perkenalannya dengan sub-agen di Pasar Pondok Gede itulah yang menjadi awal kesuksesan Idjo. Pria warga Kampung Bulak RT 01/11, Kelurahan Jatirahayu, Pondokgede, Kota Bekasi, itu kini menjadi salah satu agen penting koran Kompas dan Warta Kota.

Laki-laki asal Kampung Gabus Singkil, Desa Srijaya, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, itu menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Berawal dari kesulitan ekonomi keluarganya, Idjo akhirnya putus sekolah ketika dia baru duduk di bangku kelas 2 SD. Setelah usianya mencapai 11 tahun, Idjo hengkang dari kampungnya dan hijrah ke Jakarta.

Tepatnya di daerah Cipinang Melayu, Idjo memulai perantauannya dan bekerja sebagai pengecer minyak tanah. Semula penghasilannya dari berdagang minyak tanah cukup lumayan. Namun seiring pergantian zaman, wilayah kota Jakarta mulai diterangi oleh lampu listrik. ”Akhirnya warga yang membeli minyak tanah berkurang. Paling-paling mereka beli minyak tanah untuk masak,” ujar Idjo.

Merasa usaha berdagang minyak tanah yang digelutinya mulai lesu, akhirnya Idjo beralih profesi. Dengan bekal hasil berdagang minyak tanah, ia membeli sebuah becak dengan harga Rp 35.000. ”Saya lupa tepatnya tahun berapa saya beli becak, tapi kira-kira di awal tahun 1980-an. Setelah punya becak, saya mulai narik becak di daerah Kalimalang hingga Halim. Tapi tidak lama kemudian pemerintah Jakarta melarang becak beroperasi. Saat itu banyak becak yang digaruk. Akhirnya saya pindah narik becak di daerah Pondokgede,” ujar bapak empat orang anak ini.

Lebih lanjut Idjo mengatakan, di Pondokgede ia kerap mangkal di Pasar Pondokgede, tepat di depan agen koran milik Husin. Sesekali Idjo juga singgah di kios agen koran tersebut untuk sekadar membaca berita dari koran-koran yang dijajakan. Lama-kelamaan Idjo tertarik untuk menambah penghasilan dengan cara menjual koran.

”Saat itu saya melihat ada sekitar 20 loper koran selalu datang ke kios milik Pak Husin. Mereka pagi-pagi sudah mengambil koran dan kembali lagi pada siang hari untuk membayar setoran. Saat itu saya tertarik juga. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya ke Pak Husin bagaimana syarat menjadi loper koran,” ujar Idjo.

Jaminan surat becak

Betapa senangnya hati Idjo saat itu ketika mengetahui bahwa untuk bisa berdagang koran tidak perlu syarat yang aneh-aneh, bahkan boleh dibilang tidak ada. Husin mengatakan bahwa syarat bisa berdagang koran hanya jujur. Karena memang tertarik untuk berdagang koran, akhirnya Idjo menerima ’syarat’ yang diajukan Husin.

"Tapi karena takut Pak Husin tidak percaya sama saya, akhirnya saya menyerahkan surat becak saya sebagai jaminan. Sejak saat itulah akhirnya saya memiliki dua pekerjaan. Pagi hari saya berdagang koran hingga siang hari, selanjutnya siang hingga sore narik becak,” ujar Idjo yang juga menyebutkan bahwa saat itu Husin adalah sub-agen koran dan kerap mengambil koran dari daerah Cawang.

Dalam kurun waktu tahun 1982 hingga 1986 Idjo bekerja menjadi loper koran. Koran-koran yang dijualnya adalah Kompas, Pos Kota, Merdeka, dan Sinar Pagi. Awalnya hanya menjual belasan eksemplar, kemudian meningkat hingga puluhan bahkan ratusan eksemplar. ”Saat itu tukang koran masih ditunggu warga. Saya dagang dari pagi dari Pondokgede sampai daerah Jatimakmur jam 12 siang, masih ditunggu pembeli,” ujar Idjo dengan logat Betawi yang sangat kental.

Empat tahun kemudian kondisi Pasar Pondokgede semakin ramai. Bahkan tepat di samping kios milik Husin berdiri sebuah agen koran baru milik Antoni.  Bedanya, Antoni adalah agen yang mendapatkan pasokan koran langsung dari penerbit. Lantaran harga yang lebih murah dan bisa mengembalikan koran-koran yang tidak laku, akhirnya Idjo beralih dari sub-agen milik Husin ke agen Antoni.

”Meskipun dengan rasa tidak enak kepada Pak Husin tapi akhirnya saya pindah agen karena harga yang lebih murah Rp 10. Koran juga bisa dikembalikan jika tidak laku atau sebutannya returan,” ujarnya.

Usaha Idjo semakin berkembang. Ia lantas mengajak serta sanak saudaranya untuk berdagang koran. Bahkan hanya dalam kurun waktu tiga bulan ia sudah memiliki 30 anak buah. Saat itu status Idjo sudah meningkat dari loper koran menjadi sub-agen koran.

”Saya jadi sub-agen koran dan mengambil koran dari agen koran Antoni dari tahun 1986 hingga tahun 1995. Selama itu juga dari hasil usaha dagang koran saya bisa membeli rumah,” tuturnya.

Perjalanan usaha Idjo mulai memasuki babak baru ketika dirinya dikenalkan oleh adiknya dengan seseorang yang memiliki hubungan dengan sebuah penerbitan surat kabar. Terlebih setelah Idjo berkenalan dengan Giono, agen koran Kompas di daerah Bulakkapal.

Selama setahun Idjo mengambil koran dari agen Giono hingga akhirnya tahun 1997 ia bisa mendapatkan kesempatan menjadi agen koran meneruskan agen koran milik Wijayanto, warga Kompleks Kologad Pondok Gede. ”Saya akhirnya jadi agen resmi meskipun masih menggunakan nama Pak Wijayanto. Dan mulai saat itu pula saya selalu mendapatkan pasokan koran Kompas langsung dari penerbit,” tuturnya.

Empat Rumah untuk Empat Anak
Kesuksesan menjadi agen koran tentu tidak diraih Idjo dengan instan, melainkan dengan usaha keras. ”Setelah menjadi agen koran selama empat tahun, sekitar tahun 2001 usaha saya mulai maju. Saya berusaha sebaik mungkin. Bahkan untuk koran Warta Kota saya ikut berjuang menawarkan koran itu kepada warga sejak pertama kali terbit hingga kini jadi koran laris manis,” katanya.

Saat ini Idjo sudah bisa membeli empat rumah untuk keempat anaknya. Usahanya juga semakin maju. Lebih dari 20 sub-agen dibawahinya, di antaranya 5 sub-agen di daerah Kranggan, 3 sub-agen di Jatibening, 2 sub-agen di Pasar Kecapi, 2 sub-agen di Pasar Rebo Bekasi, 3 sub-agen di Lubang Buaya, dan 10 sub-agen di Pondok Gede.

Ia juga mempekerjakan ratusan loper koran. Mereka memasarkan koran yang dipasok Idjo, yakni 1.300 eksemplar harian Kompas, 1.500 eksemplar Warta Kota, dan masih banyak lainnya.

Dari hasil usahanya selama ini, Idjo bisa menggapai impiannya, yaitu naik haji pada tahun 2005. Lalu pada tahun 2006 Idjo membiayai istrinya, Sanih Sriyani (42), menunaikan ibadah haji. Tahun 2007 Idjo kembali pergi haji bersama kedua orangtuanya. (MUR)


Editor :
Sumber: