JAKARTA, KAMIS — Isnadia Rahmadiyati (3), anak tunggal Tri Santosa (27), meninggal karena flu burung di rumahnya di Jalan Damai III Kompleks PDK RT 11 RW 2, Kelurahan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Saat ditemui di rumahnya, Rabu (4/3) malam, istri Tri masih terguncang. Perempuan asal Lampung itu tak mau diajak bicara dan memperkenalkan namanya. "Maaf pak, saya masih terguncang," ucapnya lirih.
Ia lebih suka melamun di depan televisi di rumah kecilnya yang merangkap sebagai warung kelontong di seberang makam. Tri membenarkan, anaknya meninggal karena flu burung pada 2 Februari 2009, tapi baru terungkap pers kemarin. Saat demamnya tinggi, ibunya membawanya ke bidan. Bidan lalu merujuknya ke Rumah Sakit Aminah. Dari sana Isnadia dibawa ke RS Persahabatan, Jakarta Timur. "Di sana cuma bertahan satu jam," kata Tri datar. "Kalau Tuhan menghendaki, saya cuma bisa pasrah," tutur pria asal Purworejo, Jawa Tengah, itu.
Rawan flu burung
Kepala Suku Dinas Peternakan Jaksel Chaidir Taufik kemarin mengakui, Kecamatan Pesanggrahan rawan kasus flu burung. Dari 11 kasus flu burung sejak 2005 hingga 2009 di Jaksel, lima diantaranya terjadi di Pesanggarahan. "Kawasan ini di wilayah pinggirannya menjadi rawan flu burung karena sebagian masyarakatnya memelihara unggas," ujarnya di sela acara pemusnahan unggas oleh Sudin Peternakan di Pondok Baru II RT 02 RW 06, Pesanggrahan, Rabu.
Sejumlah warga di sekitar tempat itu mengakui banyaknya unggas yang dipelihara. Rasmadi (55), petugas kebersihan setempat, mengaku, di lahan eks pembuangan sampah, sejak 2007 ia memelihara 44 ekor kambing. Sejumlah rekannya yang lain juga memelihara kambing. "Totalnya bisa mencapai 300 ekor," ucapnya.
Tahun 2008 semua kambing mati karena kedinginan saat banjir menggenangi kandang. Kini di tempat itu masih dipelihara lebih dari 100 ekor ayam dan 100 ekor entok. "Sudin Peternakan memberi waktu kami lima hari untuk membersihkan kawasan ini dari unggas dan ternak lain," tutur Rasmadi.
Hari itu Sudin Peternakan hanya memotong sembilan ekor ayam. "Kami beri kesempatan sepekan kepada warga untuk memindahkan unggas mereka dari tempat ini," katanya.
Mengenai Isnadia, Chaidir mengakui, pihaknya baru mengetahui kasus ini pada 13 Februari. "Bukan kami menutup-nutupi, tapi karena pihak keluarga yang tak ingin publikasi," ujarnya.
Tri, ayah korban, mengetahui anaknya terserang flu burung sejak dari RS Aminah. Menurut Chaidir, kasus meninggalnya Isnadia karena flu burung menjadi kasus pertama pada tahun ini di Jaksel. "Tahun lalu ada dua anak meninggal," tuturnya.
Ia menambahkan, sejak kasus Isnadia sampai kemarin, pihaknya telah memusnahkan 170 ekor unggas dan menyertifikasi 150 unggas dari 60 pemiliknya. "Sebagian unggas yang disetifikasi adalah burung berkicau," ucap Chaidir.
