Senin, 21 April 2014

News / Megapolitan

Diluncurkan, Peta Hijau Jakarta

Minggu, 15 Maret 2009 | 13:02 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Peta Hijau Jakarta 2009 diluncurkan, Minggu (15/3) di Jakarta, oleh gabungan beberapa organisasi dan komunitas, seperti Sahabat Museum, Komunitas Historia, Bike to Work, Green Lifestyle, Green Monster Jakarta, Institute for Transportation and Development Policy, dan Bank Dunia.

Peluncuran peta ini ditandai dengan kunjungan seluruh pihak yang terlibat dalam penerbitan ke Taman Krida Loka, yang berdekatan dengan halte bus transjakarta Polda Metro Jaya, serta Museum Taman Prasasti, yang berdekatan dengan halte bus transjakarta Monas dan Stasiun KA Tanah Abang.

Menurut Koordinator Peta Hijau Jakarta Nirwono Joga, peta kali ini memang memuat lokasi-lokasi tujuan wisata yang berdekatan dengan jalur transportasi publik ramah lingkungan, seperti bus transjakarta, kereta api, serta sepeda. Untuk bus transjakarta, tim penyusun peta setidaknya mencantumkan 13 lokasi wisata bersejarah dan alam, seperti Museum Taman Prasasti di dekat Transjakarta jurusan Blok-M-Kota hingga Kebun Binatang Ragunan di dekat Halte Ragunan.

Untuk jalur kereta api, tim penyusun juga menginformasikan beberapa tempat yang patut dikunjungi, seperti Sanggar Ciliwung di dekat Stasiun KA Jatinegara. Sementara itu, untuk jalur sepeda ada Gor Bulungan dan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. "Tujuan akhir peta ini adalah meningkatkan kebiasaan hidup perkotaan yang sehat dan berkelanjutan," ujar Joga kepada para wartawan di Museum Prasasti Taman Prestasi, Jakarta. Sebelum Peta Hijau Jakarta 2009 telah dibuat Peta Hijau Jakarta Kawasan Kemang (2001), Kebayoran Baru (2002), Menteng (2003), dan Kota Tua (2005).

Menurut Joga, Peta Hijau menempatkan sarana transportasi massal tidak hanya sekadar sebagai alat penghantar dari rumah ke tempat kerja, tetapi juga sebagai wahana pembelajaran menikmati dan menjelajahi kehidupan kota.

Selain itu, lokasi-lokasi obyek wisata dalam peta tersebut dapat dicapai dengan mudah dari jalur  bus transjakarta atau jalur kereta. "Dengan demikian, pemakaian kendaraan pribadi dapat dikurangi. Ini merupakan salah satu solusi jitu mengurangi benang kusut kemacetan dan pencemaran udara berbiaya rendah," ujar Joga.

Bank Dunia, yang turut membantu mengeluarkan 5.000 dollar AS, sepakat bahwa peta tersebut dapat mendorong masyarakat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum. "Program ini sejalan dengan program Bank Dunia yang bertekad untuk mengurangi efek rumah kaca, termasuk yang berasal dari kendaraan bermotor," ujar Spesialis Lingkungan dan Kebijakan Bank Dunia Virza Sasmitawidjaja.


Editor :