KOMPAS.com — If you don't smoke, don't start... Smoker or not, start to be a collector... Pesan menggelitik itu datang dari sebuah komunitas pengumpul rokok. Komunitas Kolektor Rokok Indonesia mengajak pencinta rokok menjadi kolektor rokok unik, bukan untuk menjadi seorang pengisap rokok.
Minggu (15/3) lalu, berbagai komunitas yang terkait dengan rokok berkumpul di Festival Kretek. Salah satu komunitas yang hadir dalam acara yang diselenggarakan di gerai Oh La La Bintaro ini adalah Komunitas Kolektor Rokok Indonesia (KKRI).
KKRI adalah komunitas orang yang mengoleksi berbagai kemasan rokok. Berawal dari hobi yang sama, sebelas orang merintis perkumpulan para kolektor kemasan rokok setahun lalu.
Awalnya, untuk memudahkan komunikasi antaranggota, mereka membangun jaringan mailing list yang beralamat di kolektorrokok@yahoogroups.com, Agustus 2008. Tak disangka, banyak orang punya hobi serupa. Mailing list pun menjadi tempat menyatukan para kolektor bungkus rokok.
Berikutnya, 11 penggagas komunitas pun menggelar kopi darat untuk pertama kalinya pada akhir Oktober 2008. "Dari pertemuan inilah Komunitas Kolektor Rokok Indonesia resmi terbentuk," kenang Emirza Irsan, Ketua KKRI.
Bukan perokok
Meski lekat dengan rokok, bukan berarti para pengumpul kemasan rokok adalah orang-orang yang suka mengisap rokok. "Mayoritas anggota kami justru bukan perokok," ajar Emir, panggilan Emirza Irsan. Bahkan, dari 11 orang penggagas komunitas, hanya tiga orang yang memiliki kebiasaan merokok.
Anggota komunitas ini biasanya mengoleksi berbagai bungkus rokok yang memiliki desain atau kemasan unik dan antik. Tentu, bungkus rokok yang mereka koleksi bukan rokok mainstream atau rokok kebanyakan yang beredar di pasar.
Bungkus rokok yang mereka simpan kebanyakan adalah bungkus rokok dari berbagai daerah. Maklum, setiap daerah biasanya punya produk rokok lokal andalan. Selain itu, ada juga rokok dari zaman dulu dan rokok tanpa cukai buatan industri rokok rumahan. Sebut saja beberapa merek seperti Jagung Blank, Jie Ro Lu, dan Malioboro.
Selain pada festival seperti minggu lalu, untuk melengkapi koleksi dan memuaskan hasrat para anggotanya, KKRI rutin menggelar pertemuan setiap tiga bulan. Dalam pertemuan itu, sesekali mereka hunting rokok bareng ke pelosok daerah atau sekadar kopi darat untuk bertukar koleksi. Meski barter lebih sering dilakukan, adakalanya para kolektor juga melakukan transaksi jual beli bungkus rokok.
Untuk menebus satu bungkus rokok yang jarang dijumpai di Jakarta, tapi masih banyak di daerah, kolektor mengenakan harga dua kali lipat. "Tapi, jika rokok tersebut termasuk jenis langka harganya bisa naik tak terhingga," ajar Emir.
Cara menjadi anggota KKRI mudah saja. Peminat cukup bergabung di mailing list dan membayar iuran Rp 100.000 per tahun. Tak hanya buat kolektor rokok keretek, komunitas ini juga menerima kolektor dan pemerhati rokok putih, cerutu, pipa, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tembakau.
Dan tak hanya mengoleksi kemasan rokok, anggota komunitas ini juga gemar mengumpulkan iklan-iklan cetak rokok dari zaman baheula.
Anggota KKRI terdiri dari berbagai latar belakang pekerjaan, seperti pengacara, pegawai negeri, desainer, hingga pejabat BUMN. "Kini sudah ada 40 anggota aktif komunitas ini, jumlah yang lebih banyak ada di milis," kata Emir.
Disangka Mata-Mata Bea Cukai
Selain soal desain kemasan, cara pemasaran produsen rokok lokal juga menarik. "Mereka membangun pola fanatisme," kata Emir, Ketua KKRI.
Emir pun bercerita, di daerah peredaran rokok lokal seperti di pesisir pantai utara dan Jawa Timur, para produsen langsung mendekati juragan nelayan dan petani untuk memasarkan produk. "Kalau juragannya mengisap satu merek tertentu, nelayan dan petaninya pasti akan memilih merek yang sama," ajar Emir.
Para produsen rokok tanpa cukai juga sangat berhati-hati dalam memasarkan produknya. Terkadang, mereka harus kucing-kucingan dengan petugas cukai. "Anggota komunitas yang sedang hunting rokok di Cianjur sempat disangka sebagai mata-mata petugas Bea dan Cukai," ujar Emir.
Namun, meskipun gemar mengoleksi rokok, anggota KKRI tak tertarik mengisap rokok koleksinya. Apalagi, "Untuk rokok lokal ini yang tak memiliki uji standar kelayakan dan tak berlabel bea cukai," ujar Emir. Kalau sudah begitu, konsumen tak bisa mengetahui kualitas tembakau dan campuran saus yang digunakan.
Emir berpendapat, rokok jenis apa pun punya dampak negatif terhadap kesehatan. Meski begitu, Emir mengaku sempat tergoda mencicipi salah satu rokok koleksinya. Lalu, bagaimana rasanya? "Bah, sama sekali tidak enak dan langsung sakit perut," kenang pria tambun yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara ini sambil tergelak.
Kini para kolektor tengah berburu rokok keluaran partai politik (parpol). Maklum, menjelang Pemilihan Umum 2009 banyak parpol diam-diam menarik simpati rakyat dengan membagi-bagikan rokok dengan merek parpol. Wah, bisa nambah 38 merek nih! (Kontan/Nadia Citra Surya)


