Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 19:24 WIB
Hindari Sumber Air yang Tercemar
| Rabu, 1 April 2009 | 05:17 WIB
|
Share:

Rosdianah Dewi
kondisi situ gintung setelah jebol, semula danau tersebut memiliki kedalaman 15 meter

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru besar bidang kesehatan lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Haryoto Kusnoputranto, menyatakan, pascabencana jebolnya tanggul Situ Gintung, para pengungsi dianjurkan menghindari penggunaan sumber-sumber air yang tercemar.

”Pascabencana, sumber-sumber air sudah tercemar limbah rumah tangga, lumpur, dan bahan-bahan lain yang mengandung berbagai kuman,” kata Haryoto. Karena itu, beberapa penyakit yang menular melalui air seperti diare perlu diwaspadai. Apalagi, para korban mengungsi di satu lokasi sehingga rentan tertular.

Untuk mencegah munculnya beberapa penyakit infeksi, Haryoto menekankan pentingnya penyediaan air bersih dalam jumlah besar.

”Lebih baik ketersediaan air bersih dalam jumlah besar terjamin daripada ketersediaan air minum tetapi berjumlah terbatas. Ketentuan air layak minum lebih ketat daripada air bersih,” kata Haryoto. Sebab, ketersediaan air bersih sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan.

Rata-rata kebutuhan air bersih per orang setiap hari diperkirakan mencapai 100-150 liter untuk berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga mencuci.

”Kebutuhan air bersih penduduk di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat di daerah pedesaan,” ujarnya.

Langkah antisipasi

Kemudian dilanjutkan pendeteksian kebocoran bendungan di Jawa Timur dan Jawa Barat. ”Itu adalah cikal bakal teknologi tracer di dalam sumber daya air di Indonesia,” ujarnya. (EVY/YUN)

Sumber :
Kompas Cetak