Tak banyak pedagang nasi uduk yang buka warung siang-malam tanpa henti. Tapi warung nasi uduk Bang Muri setia melayani pelanggannya 24 jam dan buka setiap hari. Nasi uduk yang gurih dan daging empal yang empuk serta kaya rasa selalu tersedia.
Jadi, bagi yang ingin menyantap nasi uduk betawi, kapan saja bisa mengunjungi warung nasi uduk Bang Muri di Jalan Rawabelong, Jakarta Barat. Lokasinya sekitar 100 meter dari pertigaan Jalan Palmerah Barat dengan Jalan Rawabelong, ke arah Batusari.
Warung makan yang hanya berukuran kurang lebih lima meter kali empat meter itu berada di seberang kios-kios pedagang bunga. Warungnya terbilang sederhana, sepintas sama saja dengan warung makan pada umumnya. Namun yang membedakan warung nasi uduk Bang Muri dengan warung makan lainnya adalah menu makanan khas Betawi, seperti nasi uduk dan lontong sayur lengkap bersama lauk-pauknya, dengan rasa yang khas.
Warung Bang Muri biasa dijadikan tempat sarapan bagi warga sekitarnya. Sementara pada siang hari sejumlah karyawan yang bekerja di perkantoran di wilayah Rawabelong dan Palmerah juga banyak yang singgah di warung tersebut untuk makan siang. Malam hari pun warung Bang Muri kerap dipadati pengunjung. Karena buka 24 jam, warung tersebut dijadikan salah satu tempat makan para karyawan yang bekerja lembur.
Saat ini warung nasi uduk Bang Muri dikelola oleh Mutia (37), anak ketiga Bang Muri. Selain mengelola, Mutia juga berperan sebagai koki. Kepada Warta Kota, Mutia menyebutkan bahwa warung makannya memang khusus menjual makanan asli Betawi. ”Kami juga
menggunakan bumbu masak alami,” katanya.
Mutia mengisahkan bahwa ayahnya Bang Muri sudah berjualan nasi uduk dan lontong sayur sejak awal tahun 1980-an. Saat itu Bang Muri menggelar dagangannya di pertigaan Rawabelong atau persimpangan antara Jalan Palmerah Barat dengan Jalan Rawabelong. Selama sepuluh tahun Bang Muri menjual nasi uduk dengan menggunakan gerobak dan hanya buka pada pukul 16.00 hingga pukul 22.00.
Awal tahun 1990-an, Bang Muri akhirnya bisa menyewa sebuah kios untuk dijadikan warung makan. ”Dari situlah ayah saya berjualan nasi uduk 24 jam hingga saat ini,” ujar Mutia yang juga menyebutkan bahwa sebelum berdagang nasi uduk ayahnya pernah berdagang tanaman hias di Rawabelong.
Lebih lanjut Mutia mengatakan bahwa saat ini dirinyalah yang meneruskan usaha sang ayah. Resep nasi uduk ayahnya pun dia lestarikan. Rasa nasi uduk yang dibuat oleh Mutia cukup gurih. ”Kami selalu menjaga rasa gurih nasi uduk buatan kami. Santan yang dicampurkan dengan beras saat memasak nasi uduk lebih banyak dan kental sehingga rasa gurihnya sangat terasa,” tegas Mutia.

