Senin, 20 Oktober 2014

News / Megapolitan

Makanan Rumahan di Atas Telaga

Senin, 13 April 2009 | 17:24 WIB

JIKA Anda mencari rumah makan sekaligus tempat rekreasi bersama keluarga, Rumah Makan Saung Talaga di Depok bisa menjadi pilihan. Sesuai namanya, rumah makan ini ada hubungannya dengan telaga.

Tempat makannya memang berada di atas telaga atau danau. Di bawahnya banyak hidup ikan yang berenang ke sana kemari, dan akan bergerombol ketika ada pengunjung yang memberi makan.

Di luar itu, namanya juga rumah makan, tentu pengunjung ingin makan sebelum menikmati fasilitas yang disediakan Saung Talaga yang berada di Jalan Raya Sawangan, Depok, tersebut. Menurut pemilik Saung Talaga, Yani Wisnu (43), makanan yang disediakan adalah makanan rumahan.

”Yang kami sediakan makanan umum, makanan rumahan, bukan khas makanan sunda, misalnya, atau makanan yang istimewa. Jadi kalau di rumah mungkin malas memasak yang dibakar-bakar, kami menyediakan,” katanya ketika ditemui Warta Kota belum lama ini.

Makanan yang tersedia memang tidak asing di lidah kita. Begitu juga harganya relatif standar. Favorit pengunjung Saung Talaga adalah gurami, baik dibakar atau digoreng, dengan harga Rp 7.000/ons. Biasanya satu ekor gurami beratnya 7 ons sampai 1 kilogram (10 ons). Juga ikan mas goreng dan bakar yang harganya Rp 5.000/ons. Berat seekor ikan mas sekitar 6 ons. Ada juga karedok yang harganya Rp 7.000/porsi dan sayur asem Rp 5.000/porsi.

Jika tidak menghendaki ikan, tersedia juga ayam, baik digoreng maupun dibakar, yang harganya Rp 8.000/potong. Ada pula ayam peprek (ayam yang diberi bumbu cabe) yang harganya Rp 12.000/ potong. Aneka sate, baik sate ayam, sate kambing maupun sate sapi, juga tersedia dengan harga Rp 17.500/porsi hingga Rp 20.000/ porsi. Sop iga sapi pun ada, dengan harga Rp 17.500/porsi.

Juga tersedia aneka pepes, dari pepes ikan mas, pepes tahu, pepes jamur, hingga pepes peda. Harganya masing-masing Rp 7.000, Rp 3.000, Rp 4.000, dan Rp 6.000. Total tersedia 28 jenis makanan dan aneka minuman, serta camilan berupa peyek kacang dan kerupuk kulit, serta lalap dan aneka sambal.

Makan dan terhibur
Sementara tempat makannya berupa saung berbentuk memanjang, dihubungkan oleh papan kayu dan bambu. Meja ditata berderet, namun ada celah antarmeja. Tiap satu atau dua meja disediakan wastafel.

Sebagian besar tempat duduk yang tersedia lesehan. Dari 400 kapasitas tempat duduk, hanya sekitar 20 menggunakan kursi panjang. Jika akhir pekan atau libur, tempat duduk yang tersedia hampir selalu penuh.

”Kursi panjang ini sebenarnya cikal bakal Saung Talaga. Namun selanjutnya pengunjung lebih suka makan lesehan. Paling yang makan di kursi adalah ibu hamil, orang gemuk, dan orang tua yang susah untuk duduk lesehan,” kata Yani lagi.

Sebagian besar pengunjung datang ke Saung Talaga tidak sekadar menikmati makanannya saja. Banyak yang berlama-lama menikmati suasana di Saung Talaga. Baik ketika matahari sedang ’garang’ atau hujan turun, berlama-lama di atas saung memang menyejukkan. Apalagi ditiup oleh semilir angin yang ’membawa’ air. Terlebih ada ’hiburan’ ikan, monyet, dan organ tunggal serta perahu.

”Konsepnya memang rumah makan keluarga yang menyediakan makanan rumahan yang memadukan suasana alam pedesaan. Pengunjung bukan cuma makan tapi juga terhibur,” kata Yani. Jadi, makan di Saung Talaga perut kenyang hati senang. Mau apalagi? (Lilis Seyaningsih)


Editor :
Sumber: