JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo setuju dengan usulan Badan Regulator Pelayanan Air Minum (BR PAM) untuk memasukkan komponen kinerja dalam perhitungan kenaikan tarif air bersih. Namun, Fauzi juga akan memasukkan unsur biaya produksi air bersih dalam perhitungan tarif agar memenuhi syarat perjanjian kerja sama.
"Saya setuju jika unsur kinerja operator PAM diperhitungkan dalam komponen tarif air bersih. Namun kita juga terikat dengan perjanjian untuk memperhitungkan komponen biaya produksi dan komponen lainnya," kata Fauzi Bowo, Senin (1/6) di Balaikota DKI Jakarta.
Menurut Fauzi, kedua operator PAM Jaya, PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) belum dapat memenuhi target sesuai perjanjian kerja sama yang berlaku pada 2004-2007. Pencapaian mereka, terutama dalam penurunan tingkat kebocoran, masih jauh dari memuaskan.
Dari target tingkat kebocoran 37,5 persen, Palyja baru dapat menekan sampai 45,2 persen. Sedangkan Aetra baru dapat menekan kebocoran sampai 50 persen dari target 42,75 persen.
Namun, kata Fauzi, kedua operator PAM Jaya juga sudah menunjukkan perbaikan kinerja untuk melayani masyarakat. Usaha kedua operator untuk menekan kebocoran, meningkatkan tekanan air melalui rumah pompa, dan meningkatkan produksi air bersih dianggap sebagai kinerja baik meskipun belum memenuhi target.
Fauzi akan membahas masalah kenaikan tarif air bersih dan target-target baru bagi kedua operator bersama dengan BR PAM. BR PAM sudah memberikan berkas pembaruan perjanjian antara Pemprov dan kedua operator sejak pekan lalu, tetapi belum kunjung dibahas sampai saat ini.
Anggota BR PAM Firdaus Ali mengatakan, komponen kinerja seharusnya menjadi acuan dalam menentukan tarif agar masyarakat sebagai pelanggan mendapatkan keadilan. Jika kinerja kedua operator PAM Jaya baik, sangat wajar pelanggan diminta untuk membayar tarif lebih mahal, sesuai kenaikan biaya produksi.
Jika kinerja operator PAM Jaya buruk, kata Firdaus, sangat tidak adil membebani masyarakat dengan kenaikan tarif. Perhitungan tarif berbasis kinerja justru akan menguntungkan operator jika mereka mau bekerja keras untuk memperbaiki pelayanan pada pelanggan.
"Sudah terlalu lama pelayanan air bersih di Jakarta dibiarkan buruk. Swastanisasi pelayanan air bersih hanya menunjukkan sedikit perbaikan tetapi belum mampu mengubah keadaan secara signifikan," kata Firdaus.
Sebelumnya, Direktur PT Aetra, Syahril Japarin mengatakan, pihaknya sudah mampu menurunkan tingkat kebocoran dari 54 persen pada awal 2007 menjadi 50 persen pada pertengahan 2009. Bahkan tingkat kebocoran akan dapat diturunkan sampai di bawah 50 persen pada akhir 2009.
Aetra, kata Syahril, terus berusaha untuk menurunkan tingkat kebocoran sambil meningkatkan tekanan air.
Kepala Komunikasi PT PALYJA Meyritha Maryanie mengatakan, pihaknya juga terus mengurangi tingkat kebocoran dengan memantau tekanan jaringan pipa. Teknologi penyuntikan helium di jaringan pipa juga dilakukan untuk mencari lokasi-lokasi pipa yang bocor.

