SEMARANG, KOMPAS.com - Penanganan daerah aliran sungai Banjir Kanal Timur perlu segera dilakukan dengan pendekatan ekosistem. Apalagi, banjir yang melanda Kota Semarang akibat meluapnya sungai ini juga disebabkan oleh kerusakan lingkungan.
Pakar lingkungan dari Universitas Diponegoro Sudharto Prawoto Hadi, Rabu (10/6), di Kota Semarang, mengatakan, meluapnya sungai Banjir Kanal Timur (BKT) disebabkan oleh minimnya daerah resapan air di kawasan hulu yang menyebabkan tingginya tingkat air yang terbuang (run off) akibat tidak terserap tanah.
"Berkurangnya daerah resapan tersebut disebabkan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Apalagi, jika curah hujan di daerah Ungaran tinggi, maka kawasan Semarang yang akan terkena dampaknya," ujarnya.
Hal ini diperparah dengan tingginya tingkat sedimentasi BKT akibat sampah dan material yang terendap. Sedimentasi membuat daya tampung sungai menjadi berkurang sehingga air mudah meluap. "Seharusnya pengerukan sungai tersebut dilaku kan secara teratur," kata Sudharto.
Untuk menghindari banjir akibat luapan sungai BKT, Sudharto mengemukakan, seharusnya terdapat penanganan terhadap daerah aliran sungai secara komprehensif dengan pendekatan ekosistem yang melibatkan pemerintah Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak.
"Penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial dengan pendekatan administratif. Perlu ada kerjasama antarpemerintah daerah untuk menanganinya," ucapnya.
Dalam pendekatan ekosistem ini, pihak yang merawat dan menangani kawasan hulu DAS akan memperoleh insentif dari pemerintah daerah yang lokasinya berada di hilir.
Surut
Banjir yang menggenangi Kota Semarang, pada Selasa (9/6) lalu akibat luapan BKT , akhirnya surut pada Rabu. Namun, warga masih bersiap diri menghadapi adanya kemungkinan terjadinya banjir lagi.
"Barang-barang sudah saya pindahkan agar tidak lagi terkena banjir. Takutnya, air dari sungai Banjir Kanal Timur (BKT) mbludhak lagi," ujar Supi (58), warga Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Rabu.
Menurut Supi, banjir di daerahnya telah surut sejak pagi. Tidak terdapat lagi genangan air yang merendam rumah warga ataupun jalan di Keca matan Gayamsari. Di daerah lain yang terkena banjir akibat luapan sungai BKT juga sudah surut, seperti di Kecamatan Semarang Selatan, Tembalang, dan Pedurungan.

