PEKANBARU, KOMPAS.com — Warga Jalan Pesisir, Rumbai Pesisir, Kamis (11/6) sekitar pukul 16.00, gempar mendengar bunyi tembakan beberapa kali tepat di samping sebuah gudang. Setelah tidak terdengar lagi bunyi tembakan barulah warga berhamburan menghampiri menuju arah suara tembakan tersebut.
Di lokasi, warga terkejut melihat seorang pria terkapar di tanah dengan badan bersimbah darah. Robi (22), seorang yang tinggal di gudang tersebut, mengatakan tidak tahu pasti bagaimana kejadian tersebut, dan dirinya hanya tahu cerita dari adiknya, Romes (17). Romes masih berada di kantor polisi karena diperiksa sebagai saksi. "Romes sempat cerita ia mendengar bunyi letusan senjata beberapa kali saat dilihatnya keluar ternyata ada satu orang sudah terkapar di tanah," kata Robi.
Ketika dihampiri, kata Robi, ternyata orang tersebut sudah terkapar bersimbah darah. Lalu satu orang lagi ternyata petugas polisi yang sedang menangkap orang itu. Saat itu juga petugas itu meminta tolong agar orang yang tertembak itu segera dibawa ke Rumah Sakit Tentara di Jalan Kesehatan.
"Adik saya ikut mengantarkan korban ke rumah sakit," ucapnya. Petugas Ruang ICU Rumah Sakit Tentara mengatakan, korban dibawa ke IGD sekitar pukul 16.30 dan dibawa ke kamar mayat sekitar pukul 17.00. Di perut korban ada bekas luka tembakan tembus hingga punggung.
Korban yang tewas ditembak petugas Buser Polsekta Rumbai Pesisir dengan inisal Ds adalah tersangka pengedar daun ganja bernama Angli Sinaga (26), warga Jalan Sidomulyo, Labuh Baru. Kapoltabes Pekanbaru Kombes Berty DK Sinaga mengatakan, korban yang tewas ditembak oleh petugas itu adalah tersangka narkoba.
Polisi menemukan daun ganja seberat satu ons dari tangan Angli. "Nama tersangka adalah Angli dan ia juga merupakan mantan napi atas kasus jambret," ujar Berty. Saat mendapat kabar tersebut, kata Berty, ia bersama perwira lainnya dan dibantu oleh tim identifikasi langsung ke lokasi.
Menurut Berty, petugas Ds sedang melakukan pengintaian di Jalan Pesisir. Karena petugas itu mendapat informasi akan ada transaksi narkoba di sana. Di lokasi, petugas melihat Angli sedang menunggu pembeli. Saat digerebek, Angli melawan dan sempat saling rangkul dengan petugas.
"Ketika itulah tersangka sempat menyentuh senjata petugas yang terselip di pinggangnya dan tersangka mencoba merampas senjata itu," kata Berty. Karena senjatanya ingin dirampas dan terjadi pergumulan, jelas Berty, petugas itu sempat berteriak minta tolong, tetapi warga tidak berani.
Lalu Ds menangkap tangan tersangka dan terjadilah pergumulan tersangka dengan petugas saling rebut senjata. Bahkan, sempat terjadi sekali letusan karena petugas itu tidak ingin mengambil risiko dan tersangka masih melakukan perlawanan akhirnya tersangka terpaksa ditembak dan tepat mengenai perutnya. Seketika tersangka tak berkutik dari tubuhnya keluar darah segar.
Sementara itu, lutut kanan petugas terluka. Berti mengatakan, apa yang dilakukan petugas sudah sesuai prosedur karena tersangka melakukan perlawanan dan ingin merampas senjata. "Walau bagaimanapun petugas itu tetap kita periksa dan saat ini masih diperiksa oleh Unit P3D," ujar Berty
Ketika mendapat kabar anak laki-laki satunya tewas ditembak polisi, R Br Purba (42), ibu Angli Sinaga, langsung terduduk lemas dan tidak percaya anaknya telah tiada. Kabar duka didapatnya dari sanak familinya. Menurut paman Angli, Jafar Purba (36), yang datang melihat jenazah keponakannya itu ke RS Tentara sekitar pukul 21.00, saat mendapat kabar Angli tewas, kakaknya (ibu Angli) langsung terduduk lesu dan menangis histeris.
"Kakak saya tidak percaya anaknya telah tiada, sebab Kamis pagi Angli sempat permisi keluar," ujar Jafar. Biasanya, kalau keluar rumah, Angli nyelonong begitu saja dan tidak pamit.
"Bahkan pagi itu selain pamit, Angli juga sempat mengatakan kepada ibunya tidak pulang malam ini. Tahu-tahunya kami mendapat kabar sekitar pukul 19.00 Angli tewas ditembak polisi," ucapnya. (rsy)

