BANTUL, KOMPAS.com- Sekitar 100 karyawan pabrik garmen PT Gabella, Rabu (17/6), menemui jajaran Pemkab Bantul untuk meminta Pemkab mendesak pabrik, karena gaji dan uang lembur selama berbulan-bulan tak kunjung diberikan.
Sekretaris Serikat Pekerja Gabella Mandiri (SPGM) Ita Fitriani mengatakan, pabrik tidak membayar upah bulanan sejak Februari 2009, juga uang lembur sejak Februari 2008. Upah karyawan, Rp 590.000 per bulan. Ditambah lembur, mereka menerima sekitar Rp 800.000.
Jika dikalkulasi, secara garis besar satu karyawan tidak mendapat uang Rp 4 juta sampai Rp 6 juta. "Ketika kami tanyakan ke pihak pabrik, mereka hanya mengatakan tidak punya uang, karena pembeli belum membayar pesanan. Beberapa kali kami mogok kerja, tapi keadaanya masih seperti ini," katanya.
Pertengahan Maret lalu, perusahaan hanya memberi upah Rp 150.000, atau kurang dari seperempat upah. Setelah itu, tak ada lagi pembayaran upah. Pertengahan April, SPGM menanyakan ke pabrik tentang pelunasan upah. Saat itu, pabrik menjanjikan upah Februari dan Maret 2009, berikut uang lembur yang setahun belum dibayar akan diberikan beberapa hari kemudian.
Karyawan yang tertunda upah dan uang lemburnya itu berstatus tetap dan kontrak. Masa kerja mereka mulai dari setahun hingga 15 tahun. "Yang memberatkan kami adalah sebagian karyawan sudah berkeluarga. Jika tidak digaji, kami makan apa," kata Ita. Upah pabrik pun, disampaikan jauh di bawah upah minimum provinsi Rp 700.000.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul Gendut Sudarto yang menemui karyawan mengemukakan, pihaknya akan memediasi pertemuan dengan PT Gabella. "Perusahaan itu sebenarnya sudah kami peringatkan berkali-kali. Jika keadaan seperti ini terus, sebaiknya karyawan berpikir untuk pindah kerja. Memang tidak mudah, tapi itu mesti dipikirkan," katanya.
Manajemen PT Gabella belum bisa dikonfirmasi. Venti, salah satu staf PT Gabella, hanya mengatakan bahwa pihak Human Resources Deparment (HRD) tidak berada di tempat. Sedangkan Bagian Keuangan pabrik sedang mengadakan rapat. PT Gabella berlokasi di Rukeman Tamantirto Bantul.

