JAKARTA, KOMPAS.com — Realisasi proyek mass rapid transit (MRT) memang baru dilaksanakan pada tahun 2010 dan diharapkan rampung pada 2016. Namun begitu, masyarakat tampaknya menyambut antusias megaproyek tersebut.
"Boleh juga. Lebih mewah dari biasanya yang sumpek," kata Joni (35), warga Cengkareng yang datang di stan MRT Jakarta, Jumat (19/6).
Joni yang datang bersama istri dan 3 anaknya sangat mendukung proyek MRT karena nantinya bisa mengurangi kemacetan. "Ada banyak orang yang akan beralih ke transportasi massal," ungkap Joni.
Dukungan juga terlontar dari Iwan Suhendar (40). "Kalau memang mungkin yang akan dibuat seperti ini, itu bagus banget," kata pria tegap asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini.
Lebih jauh, Iwan yang datang bersama istri dan 3 putranya itu mengaku tidak masalah dengan total proyek MRT yang menelan dana hingga Rp 16 triliun itu. "Tidak masalah asal untuk hajat orang banyak," tutur Iwan.
Lalu bagaimana tanggapan pengunjung terhadap jadwal pembangunan yang baru akan dimulai 2010 dan selesai 6 tahun kemudian? "Kaget. Kok lama banget baru jadi 2016. Saya keburu tua dong," kata Hendri (56), warga Tanjung Duren.
Yang menarik, ketika Kompas.com mencermati tanda larangan sebelum penumpang masuk kereta api MRT, selain di dalam tidak boleh merokok, makan-minum, membawa bahan-bahan yang bisa meledak, juga ternyata tidak boleh membawa durian.
"Gila, ini satu-satunya buah yang dilarang, kasihan ya," kata salah satu pengunjung sepintas lewat.

