CIREBON, KOMPAS.com — Tak diizinkan panitia, sejumlah pendukung calon presiden SBY kecewa tidak dapat melihat langsung tokoh idola mereka berpidato di dalam Gedung Olahraga Bima, Kota Cirebon, Sabtu (27/6). Panitia menolak karena mereka membawa anak-anak. Akhirnya, mereka hanya duduk-duduk menunggu di luar GOR.
Arumansyah (35), warga Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mengaku kecewa tidak diizinkan panitia penyelenggara kampanye masuk ke GOR Bima karena dia menggendong anaknya, Mastofa (5). Padahal, dia sudah berniat sekali bisa melihat dari dekat SBY.
Sebenarnya, Arumansyah tidak berniat membawa putra keduanya, tetapi karena putranya menangis saat dia akan pergi, terpaksa si bungsu diajak juga. Ada dua orang dalam rombongannya yang membawa anak, dan hanya mereka berdua dari rombongan mereka yang tidak diperbolehkan masuk. "Ingin masuk lihat Pak SBY, tapi tidak boleh masuk oleh penjaganya," ujar Arumansyah yang saban hari bekerja sebagi nelayan.
Hal yang sama juga dikeluhkan Tatik, ibu rumah tangga dari Desa Japura, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, yang sudah menunggu bersama sesama ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil. Tatik pun hanya bisa menunggu atau menemani anaknya bermain, untuk menunggu kampanye selesai dan teman-teman mereka yang ada di dalam GOR.
Menurut Abi, salah seorang panitia, memang sudah sejak awal ditekankan oleh panitia bahwa anak-anak tidak boleh masuk ke dalam lokasi kampanye. Sebab, tim sukses maupun panitia tidak ingin melanggar aturan kampanye yang telah ditetapkan KPU, melarang anak-anak terlibat dalam kampanye. Oleh karena itu, dari pintu masuk, jika ada simpatisan atau kader yang membawa anak-anak dilarang masuk.
Meski demikian, sempat terlihat ada anak-anak yang di dalam GOR. Kepala Polresta Cirebon AKBP Ary Laksmana mengatakan, anak-anak memang tidak diperbolehkan ada di dalam lokasi kampanye. Untuk itu, dia mendukung sikap panitia yang ketat menyeleksi warga yang masuk ke GOR, terutama yang membawa anak kecil.
Arumansyah menambahkan, meski dia kecewa, dia tetap berharap SBY bisa membawa kesejahteraan bagi rakyat kecil, khususnya nelayan. Selama ini, masih banyak nelayan yang miskin dan selalu mendapat ketidakpastian harga ikan. Selain itu, dia berharap, sekolah gratis sampai SMA dan ada sekolah setingkat SMA di sekitar desanya. Selama ini, anak-anak yang mau melanjutkan SMA harus sekolah di tempat yang jauh. "Ongkos transpornya jadi mahal," ujar Arumansyah menyampaikan keluhan kakaknya yang punya anak SMA.

