Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:16 WIB
Mengenalkan Peradaban Lewat Wisata Sejarah
Eko Hendrawan Sofyan | Selasa, 30 Juni 2009 | 01:43 WIB
|
Share:

Kompas/ken
Klenteng Dewi Kwan Tie Miau

SEMARANG, KOMPAS.com -- Banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari sebuah peristiwa di masa lampau. Ia menjadi cermin untuk kita belajar tentang sebuah peradaban yang adiluhung hingga nilai-nilai hidup yang bisa dihayati dan dilanjutkan dalam kehidupan sekarang ini.  

Kenalkan anak-anak kita untuk belajar darinya. Cara yang mudah, cukup dengan mengajak anak-anak kita mengisi liburan dengan berwisata sejarah.

Cara inilah yang juga dilakukan Ny. Ati (43), ibu empat anak asal Solo. Ia mengisi liburan keempat anaknya dengan mengajak berwisata sejarah di kota Semarang. Mengunjungi lokasi-lokasi yang bisa memberikan pencerahan bagi anak-anaknya untuk belajar nilai-nilai luhur dari peradaban di masa lampaui.

Kelenteng Sam Poo Kong, di Jalan Simongan menjadi lokasi pertama yang mereka kunjungi. "Setelah ini kami akan ke Vihara, Masjid Layur dan Lawang Sewu," katanya kepada kompas.com, ditemui di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jumat (26/6).

"Di sini (Kelenteng Sam Poo Kong)  bisa dilihat bagaimana budaya Islam berpadu dengan kebudayaan Cina.Dulu hubungan orang pribumi dengan pendatang dari Cina bisa akur, berbaur dan berkomunikasi dengan baik. Ini yang ingin saya sampaikan ke anak-anak saya. Kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak," ujar Ati, didampingi keempat anaknya, Wini (17), Sarah (15), Alish (11) dan Lala (8).

Keberadaan Kelenteng Sam Poo Kong, menjadi bagian dari sejarah yang sangat dibanggakan masyarakat Kota Semarang. Tahun lalu, kelenteng ini menjadi ikon Visit Indonesia Year 2008.

Kelenteng Sam Poo Kong memang telah menyimpan jejak sejarah yang panjang. Dibangun oleh warga etnis Tionghoa Semarang untuk memberi penghormatan kepada Laksamana Zheng He, seorang taykam Kaisar Cheng Zu dari Dinasti Ming, yang dianggap sebagai leluhur mereka.

Kelenteng Sam Poo Kong, dibangun pertamakalinya pada tahun 1724. Namun karena kondisinya yang sudah tua, Kelenteng ini dibangun kembali pada tahun 2002 dengan mengalami banyak perubahan bentuk di mana-mana. "Semua sudah bangunan baru. Dulu semuanya dibuat kayu jati," ujar Ratman, pemandu di Kelenteng Sam Poo Kong.

Sejak dibangun kembali  pada tahun 2002, Kelenteng ini tak hanya dijadikan tempat peribadatan tapi juga lokasi wisata.

Dikatakan Ratman, Kelenteng Sam Poo Kong merupakan perpaduan tiga kebudayaan, yakni Cina, Jawa dan Islam. "Arah bangunan Kelenteng utama agak nyerong dari bangunan lainnya, karena bangunan tersebut mengarah ke kiblat," katanya.

Unsur budaya Islam juga tampak dari adanya sebuah bedug, yang terletak di sisi kiri Kelenteng utama. "Kalau di kelenteng lain warna catnya hanya didominasi warna merah dan kuning, di Sam Poo Kong, justru ada warna hijau. Merah melambangkan kemakmuran, kuning lambang kesejahteraan dan hijau warna kesukaan Nabi Muhammad," jelasnya.

Sementara ornamen budaya Jawa yang hadir melengkapi keberadaan Kelenteng Sam Poo Kong terlihat dari adanya sebuah pendopo yang terletak di area dekat pintu gerbang utama komplek Kelenteng Sam Poo Kong.

Berdasarkan catatan sejarah, Zheng He merupakan seorang laksamana beragama Islam. Oleh kaisar ia diperintahkan untuk memimpin armada melakukan kerjasama budaya dan perdagangan di sejumlah wilayah. Konon, Zheng He telah melakukan tujuh kali perjalanan keliling dunia. Perjalanan armada Zheng He di  wilayah nusantara diawali tahun 1405. Perjalanan keduanya dilakukan pada tahun 1416. Pada perjalanannya yang kedua itulah armada Zheng He terdampar  di Jawa, tepatnya di Pantai Simongan, yang sekarang menjadi lokasi berdirinya Kelenteng Sam Poo Kong. Nama Simongan sendiri dijadikan nama jalan persis di depan Kelenteng Sam Poo Kong. 

Kisah singkat mengenai perjalanan Zheng He sekarang diabadikan dalam sebuah relief di tembok yang berada tepat di belakang kelenteng utama dengan menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Cina dan Inggris.

Sayangnya, sejak November lalu, para pengunjung tak bisa lagi melihat lebih dekat tempat-tempat peribadatan tersebut. Pihak  yayasan sengaja memasang pagar 1,5 m untuk menjaga kekhusyukan mereka yang sedang melakukan sembahyang.

"Seharusnya tidak dipagari seperti  ini, kasihan wisatawan yang dari jauh. Kita kan inginnya juga bisa melihat secara dekat," keluh Ny. Ati.