Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 14:34 WIB
Berlibur dengan Bertualang
Egidius Patnistik | Sabtu, 4 Juli 2009 | 13:31 WIB
|
Share:

KELUARGA Permana membuka kembali album foto yang berisi gambar-gambar mengenai aktivitas anak-anaknya tiga tahun silam di sebuah pematang luas, yang ditumbuhi pohon kopi, dan mangga yang lebat buahnya. "Inilah dokumen liburan anak-anak saya tiga tahun silam di sebuah dusun di Kecamatan Kalimas, Semarang Jawa Tengah. Kami akan mengulang petualangan itu dalam liburan sekolah kali ini," katanya.

Dalam salah satu album itu, ada foto anaknya, Rizki (9) sedang memetik mangga ranum sambil duduk di atas punggung kerbau. Permana (48) adalah karyawan perusahaan minyak yang berasal dari
dusun itu. Leluhurnya masih mempunyai lahan tak kurang dari dua hektar di kawasan kebun karet.

Tiga tahun sekali dia membawa istri dan ketiga anaknya yang masih duduk di SD dan SMP untuk menghabiskan liburan sekolah di desa yang sejuk itu. "Saya sudah pernah mengajak anak-anak ke berbagai lokasi wisata di Jakarta, Bogor, Ciater, Bromo. Tapi saya punya impresi tersendiri saat berlibur ke dusun. Di sana ada sungai Kali Mas yang sebesar Ciliwung tapi kejerniah airnya masih terjamin," tuturnya.

Lulusan Iowa College itu berpendapat bahwa kelemahan aktivitas
liburan di Jakarta ialah di sekitarnya kurang membuka ruang untuk aktivitas petualangan; semuanya tersedia dengan fasilitas lengkap yang membuat orang cepat bosan dengan hiburan yang ada. "Tempat rekreasi di Indonesia umumnya kurang memberi rasa bertualang, kecuali beberapa tempat wisata yang menyajikan olahraga arung jeram di Ciliwung dan sungai Citarik di Sukabumi," katanya.

Menurut Permana, ide turisme yang paling awal adalah berkelana. "Dalam berkelana, yang ditempuh sebagian dengan jalan kaki itu, sang turis menyaksikan eksotisme alam raya. Mereka tak jarang masuk hutan dengan jalan kaki. Di hutan itulah mereka menyaksikan ular, rusa, aneka satwa lain. Bahkan mereka sengaja mencari sensasi dengan mengharap bisa ketemu harimau," katanya.

Dengan meniru konsep itu, Permana berencana mengajak anak-anaknya  berlibur ke desa. "Keluarga saya kebetulan masih memelihara kerbau dan anak-anak paling senang naik kerbau sambil berjalan di air sungai. Ini juga mengandung sensasi bertualang khususnya untuk anak-anak yang masih duduk di bangku SD," katanya.

Penyegaran
Meski tak seeksotis Permana, keluarga Maryadi juga berencana mengajak kedua anaknya berlibur ke perkebunan miliknya di kawasan Rancamaya Puncak, Bogor. "Kami selalu mengisi liburan anak-anak dengan mencari penyegaran di Puncak," katanya.

Di atas lahan seluas 800 meter persegi miliknya, Maryadi membangun sebuah pondok sederhana berkamar dua, dengan konstruksi rumah panggung. Di belakang pondok itu ada kolam ikan gurame seluas 35 meter persegi. "Anak-anak sebulan sekali saya ajak ke tempat itu, Berangkat pagi pulang sore. Tapi kalau liburan, kami bisa menginap di sana selama sepekan. Asyik juga hidup secara subsisten. Memenuhi kebutuhan sehari-hari cukup dari hasil bumi sendiri," katanya.

Dia mengaku, anak-anaknya tadinya enggan berlama-lama tinggal di
kawasan yang kalau malam dipenuhi suara jangkrik dan serangga itu. "Tapi saya dan istri membujuk mereka bahwa kalau mau menikmati kehidupan kota, suasana pedesaan harus juga dialami. Seminggu tak menginjak lantai mal tentu terasa gimana gitu," kata Maryadi yang tinggal di Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat.

Dia bercerita, untuk membuat anak-anaknya betah tinggal di
kawasan yang masih bertetangga dengan perumahan elit Rancamaya Bogor itu, sebelum berangkat, dia memborong novel dan komik kegemaran
anak-anaknya. "Itu salah satu perangsang agar mereka bisa bertahan lama tinggal di perkebunan kami," katanya.

Keluarga Permana dan Maryadi bukan tidak suka berlibur ke tempat-tempat rekreasi umum yang terkemuka. "Ya mungkin suatu saat nanti kami bosan libur ala back to nature. Di saat itulah kami akan kembali berlibur ke tempat-tempat rekreasi umum seperti Ancol atau Taman Mini," kata Maryadi. "Inti berlibur adalah mencari suasana intermezo untuk meretas rutinitas yang bikin orang stres," ujar Permana.

Sumber :
Ant