Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:36 WIB
"Image"
| Senin, 6 Juli 2009 | 11:53 WIB
|
Share:

Saya membaca koran sambil makan pagi di meja makan di rumah orangtua. Meja makan yang menemani keluarga kami sejak puluhan tahun lalu yang sekarang malah kelihatan sangat ”in”. Meja yang setia diduduki sampai hari ini, yang kalau saja bisa berbicara, ia mungkin ingin berhenti menjadi meja makan. Apalagi yang mendudukinya saya.

Kejadian ini sudah beberapa bulan lalu, koran yang saya baca adalah Jawa Pos, Jumat 28 Maret 2009. Saya tertarik pada artikel mini dan singkat. Judulnya, ”Aktivis Soroti Caleg Berpoligami”. Para aktivis perempuan yang berhimpun di bawah bendera SPI (Solidaritas Perempuan Indonesia), menurut laporan itu, sedang menyoroti caleg berpoligami. Mereka mendapatkan beberapa nama caleg yang dikategorikan berpoligami. Yang menarik adalah komentar salah satu caleg mengenai apa yang dilakukan SPI. ”Poligami adalah masalah pribadi yang tidak pantas dibawa ke ranah publik.”

Publik dan nonpublik

Kalimat terakhir dan dipakai sebagai penutup artikel mini itu nyaris membuat bubur gandum sebagai menu sarapan tersembur keluar dari mulut.

Saya bingung, bingung, bingung. Yang tidak pantas dibawa ke ranah publik itu poligaminya atau masalah pribadinya? Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, mengapa tidak pantas? Saya tidak tahu alasannya karena tidak dijelaskan di artikel mini itu. Saya cuma mikir sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak pantas, pasti ada yang pantas. Terus, yang pantas dibawa ke ranah publik itu yang bagaimana?

Kalau itu disebut tidak pantas, artinya sesuatu yang tidak santun atau yang sebaiknya tidak dilakukan dan diperlihatkan kepada khalayak umum. Terus, apakah itu menjadi santun dan pantas kalau dibicarakan di antara keluarga saja atau dengan diri sendiri?

Menurut tingkat kepandaian saya, kalau yang tidak pantas di ranah publik, kok kayaknya ya juga tak pantas di ranah nonpublik. Nurani, maksud saya. Karena, berdasarkan pengalaman menjalani hidup ini, apa yang dianggap pantas atau tidak pantas, awalnya yaaa… dari nurani itu asal muasalnya, yang tak bisa dibohongi. Itu pengalaman nurani saya. Mungkin saja ada nurani yang bisa dibohongi.

Makan pagi saya dihujani pertanyaan dari nurani sendiri hanya gara-gara kalimat terakhir di koran itu. Ada dua isu yang memusingkan dan menyindir saya. Soal pantas dan tidak pantas, dan apakah masalah pribadi bisa dipisahkan dengan ruang publik? Apalagi kalau manusianya berpredikat kondang. Meski manusia macam saya, yang katanya dewasa, yang tahu menilai mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, tetapi punya mulut seperti burung. Berkicau, maksudnya. Belum lagi kalau kicauannya ke mana-mana. ”Nah… itu namanya gak dewasa, Neng. Jadi, burung berkicau itu yang keliru,” ini komentar si bawel.

Si bawel berteriak lagi, ”Stop ngomongin orang. Coba lo sendiri becermin.” Kemudian saya becermin setelah menghabiskan sarapan rasa tembok itu.

Saya pindah dari ruang makan ke sofa di depan taman. Dan mulailah melihat masa lalu yang menjadikan saya seperti sekarang ini. Hitam dan putih. Saya mencoba mengedit yang mana masalah pribadi dan mana yang bukan. Mana yang saya anggap pantas dan yang tidak pantas. Karena, kekuatan untuk menerima yang dianggap tidak pantas oleh publik membutuhkan keberanian, kematangan jiwa, dan kemantapan dalam menerima diri sendiri. Dengan demikian, kambing itu hanya untuk sate atau tongseng, dan bukan dijadikan hitam.

Setelah sekian jam merenung, ternyata yang tidak pantas banyak sekali. Maka, karena lebih banyak yang tidak pantasnya, saya ceritakan yang terbanyak saja. Mau mengaku putih, bisa saja. Karena publik tak tahu, tetapi saya punya banyak teman yang tahu perjalanan hidup pribadi saya yang tidak pantas itu, seperti awan hitam saat hujan deras mengguyur. ”Kok kayak awan hitam, kayak kacamata lo itu, Jeng. Gelep pisan.” Itu si bawel yang bicara.

Jujur?

Masa lalu saya dibanjiri kesenangan akan hal yang berhubungan dengan seks. Tak selalu berakhir dengan persetubuhan meski gaya yang dipraktikkan Jeng Monica Lewinsky pernah saya lakukan. Di gedung putih juga. Kebetulan tempat saya melalukan kegiatan ”olahraga” itu memang bercat putih. Dan dengan seorang presiden. Presiden direktur, maksud saya. Saya tak perlu menceritakan apa saja yang saya lakukan.

Beberapa belas tahun lalu, saat saya menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah gaya hidup, saya pribadi membuka acara peluncuran majalah itu dengan berlenggang di panggung hanya menggunakan cawat minim. Undangan yang berjumlah kira-kira tiga ratus orang itu berteriak kencang dan saya makin kesurupan. Saya makin senang ketika teriakan itu membahana. Itu di ranah publik, publik yang tak dikenal, tetapi yang akan mengingat kejadian itu seumur hidup mereka.

Lima tahun lalu saya pernah menjadi simpanan. Yang tahu hanya beberapa orang saja, dan sekarang semua pembaca koran ini tahu masa lalu itu. Bayangkan kalau saya sekarang terpilih mewakili salah satu partai, coba apa yang akan saya lakukan di gedung perjuangan itu? Saya tak perlu menuliskan apa yang akan saya lakukan. Coba Anda yang saya tugaskan hari Minggu ini, kira-kira program apa yang akan saya wujudkan.

Nurani saya bilang begini, ”Neng… enggak usah mikir macam-macam. Mikir saja dulu, partai mana yang mau punya anggota macam dirimu?” Yaaa… saya mikir lagi. Benar, partai mana yang mau punya anggota seperti saya. Apalagi yang sekarang bercerita masa kelamnya di ranah publik, semua orang tahu. Saya akan seperti nila yang setitik, kemudian merusak susu yang sebelangga.

Atau mungkin lebih baik saya mengaku jujur seperti ini, jadi tak ada seorang pun akan mengungkit-ungkit hal yang tidak pantas itu? Lha wong sudah diketahui publik dan saya tak merasa keberatan yang tidak pantas itu diketahui orang. Daripada saya katakan saya enggak ini, enggak itu, tetapi ternyata saya ini dan saya itu dan hanya memancing orang malah menyerang saya. ”Sudah deh… enggak usah nambah-nambah lagi. Stop menulisnya. Stop, stop, stop.”

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

KILAS PARODI

Nah...

1. Bangunlah citra yang pantas dari sejak semula. Tetapi, kalau Anda seperti saya sudah hampir setengah abad, sejak semulanya juga sudah kelewat, sehingga mau memperbaiki yang tidak pantas itu tak mungkin lagi, yaaa… mumpung masih diberi kesempatan hidup dan membenahi diri, mari kita membuka lembaran baru. Kesempatan kedua itu jarang datangnya, bahkan kadang tak datang. Jangan sampai pas datang Anda enggak ngeh.

2. Kalau mau membangun citra baru mesti sudah separuh jalan, hati-hatilah. Namanya manusia, nafsu itu kadang suka melonjak meski sudah sepuh. Datangnya juga seperti maling. Tak disangka, tak diduga. Tetapi, selain nafsu, Tuhan memberikan otak yang bisa mikir. Memang sejujurnya, susah mikir kalau nafsu sedang datang menyerang. Maka, mungkin sebaiknya yang pertama dibenahi adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Cuma Dia, menurut saya, yang bisa mengalahkan nafsu yang seperti maling datangnya itu.

Masalahnya, Sang Pencipta bisa dan mau, tetapi apakah Anda mau? Mau minta tolong dengan berkata, ”Tuhan nafsuku kok tiba-tiba pengin menelepon agen penjual daging hidup? Tolong Tuhan kuatkan hamba-Mu ini.”

3. Teman saya tanya, ”Emang kalau gue jadi simpanan itu enggak pantas?” ”Kan yang pantas di lo belum tentu pantas di gue dong.” Eh…dia masih nyerocos lagi, ”Sekarang ni ya, Jeng, makan pakai tangan lebih pantas enggak daripada makan pakai sendok garpu? Tergantung, kan?” Saudara-saudara pembaca yang budiman, saya benar-benar KO, tak tahu mesti menjawab apa. Tolong saya.

4. Inga, inga. Terutama kalau Anda kondang. Kondang itu dikenal banyak orang dan bisa menjadi public property. Maka, jangan macam-macam kalau bertingkah. Inga juga, Anda boleh saja kondang, tetapi jangan lupa Anda punya ayah, ibu, dan sanak saudara. Kalau Anda mau mempermalukan diri sendiri, itu tidak mungkin. Karena manusia yang disebut tadi akan terseret juga. Jadi, urusan publik dan tidak publik tampaknya tak bisa dipisahkan. Inga juga. Jangan mudah menuntut orang dengan ucapan mencemarkan nama baik. Sebelum Anda berteriak, coba tanya, siapa yang awalnya mencemarkan diri? Karena tak mungkin ada asap, tetapi tak ada apinya, bukan? (Samuel Mulia)