JAKARTA, KOMPAS.com — Di balik musibah selalu saja ada romantisme. Setidaknya, keluarga yang ditinggalkan umumnya hanya mengenang yang baik-baik atas para korban tewas. Dengan begitu, yang meninggal diharapkan akan lapang jalannya, sementara yang ditinggalkan menjadi kuat menerima kenyataan.
Itu pula yang dirasakan Hasan (27). "Ibu selalu pesan kalau ada masalah jangan pernah menyerah dan harus ulet, itu yang paling berkesan," kata anak sulung korban bernama Suwarni itu, saat ditemui di Instalasi Pemulasaraan Jenazah RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Senin (13/7) sore ini.
Menurut Hasan, ibunya sudah 20 tahun menjadi juru masak, dan tak pernah mengeluh satu kata pun pada dirinya. Bekerja cepat dan pintar memasak merupakan salah satu hal yang dimiliki sang ibu yang menurutnya akan senantiasa hadir di dalam ingatannya.
Aura duka juga tampak dari raut wajah seorang wanita bernama Tukijem (25), adik Suwarni. Ia mengaku sangat kehilangan dan sedih atas musibah yang merenggut nyawa kakaknya tersebut.
"Terakhir ketemu tiga bulan yang lalu. Abis itu belum ketemu lagi," katanya sambil menahan air mata. Ia tak menyangka pertemuan itu merupakan pertemuan mereka yang terakhir. "Tak ada firasat apa pun kalau dia akan meninggal secepat ini," katanya.
Saat ini Tukijem hanya berharap agar proses otopsi di rumah sakit bisa diselesaikan hari ini juga agar jenazah kakaknya dapat segera dibawa pulang untuk dikebumikan di kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah.
Saat ini tujuh jenazah korban kebakaran di Kedoya yang terjadi akibat kebocoran gas elpiji itu masih berada di ruang jenazah RSCM. Belum diketahui secara pasti kapan jenazah akan diserahkan kepada keluarga untuk dibawa pulang.


