Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 15:25 WIB
Teroris Mencari Momentum Pascapemilu
| Jumat, 24 Juli 2009 | 06:02 WIB
|
Share:

AP PHOTO/INDONESIAN STATE SECRETARIAT, CAHYO BRURI SASMITO/HO
Foto yang dirilis oleh Sekretariat Negara, bagian dalam restoran Hotel Ritz-Carlton yang rusak berantakan setelah terkena ledakan bom, Jumat (17/6).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Peledakan bom secara paralel di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat (17/7), diindikasi oleh polisi bahwa kelompok pelakunya sengaja mencari momentum pascapemilu.

Momentum itu sebagai simbol perlawanan terhadap demokrasi yang dianggap salah satu produk Barat (Amerika Serikat).

Hal itu terungkap dari penyidikan polisi sementara ini berdasarkan lalu lintas pesan antaranggota kelompok yang diduga terlibat di balik peledakan tersebut.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan, kepolisian tengah menelusuri segala kemungkinan. Soal dugaan momentum tersebut, menurut Nanan, hal itu bisa menjadi petunjuk bagi polisi untuk menelusuri latar belakang identitas kelompok yang bertanggung jawab.

”Termasuk soal JI (Jemaah Islamiyah) bisa ya, bisa juga bukan. Atau bisa juga sempalannya yang dimanfaatkan pihak lain. Kami belum sampai kesimpulan. Berpijak pada logika induktif dari temuan lapangan, semua kemungkinan itu diselidiki,” papar Nanan, Kamis.

Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Sulistyo Ishak mengatakan, meskipun hasil tes DNA dua jenazah misterius di lokasi kejadian tidak cocok dengan Ibrohim (penata bunga di Ritz-Carlton) dan Nur Sahid, polisi tetap menelusuri keberadaan keduanya yang kini masih hilang. Sulistyo memastikan ketidakcocokan itu bukan menjadi landasan kesimpulan soal terlibat atau tidak terlibatnya seseorang.

Selalu terkait Amerika

Dari Kudus, Jawa Tengah, mantan petinggi JI, Abu Rusdan, yang telah bebas dari penjara menerangkan, sasaran ataupun momentum peledakan senantiasa segala sesuatu yang terkait kedigdayaan Amerika.

”Penggunaan bom karena dianggap paling efektif untuk menarik perhatian dunia. Tanpa mengumumkan diri, penanggung jawab pengeboman sudah bisa dideteksi lewat sasaran yang dituju,” kata Rusdan.

Rusdan mengaku tak tahu secara pasti pelaku bom bunuh diri. Menurut dia, secara kelembagaan JI sudah bubar sejak 1999. ”Saya pun tidak tahu keberadaan teman-teman karena sampai sekarang belum ada sosok yang tepat yang dijadikan panutan. Sedangkan aksi itu tetap akan berjalan terus. Ibaratnya meniup dua buah balon, yang satu mengembang dengan sempurna, tetapi satunya lagi meletus,” katanya.

Kepala Bidang Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Ketut Untung Yoga Ana mengungkapkan, sejauh ini polisi telah menerima 15 telepon dari warga terkait gambar dua sketsa wajah jenazah yang diduga pelaku bom bunuh diri. Namun, belum ada informasi signifikan soal identitas kedua jenazah itu.

Menurut Nanan, berdasarkan hasil identifikasi forensik polisi, kedua jenazah tersebut diperkirakan berasal dari ras Mongoloid. Ras ini dideskripsikan sebagai orang dari Asia Timur dan Asia Tenggara.

Mantan Kepala Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri Brigjen Pol (Purn) Dudon Satyaputra menjelaskan, perakitan bom berdaya ledak rendah (low explosive) sebenarnya juga memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi.

”Bahan peledak tipe low explosive sangat tidak stabil dan mudah meledak. Hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan khusus yang mampu meracik bom berbasis bahan low explosive menggabungkan RDX, TNT, dan sebagainya,” kata Dudon yang menangani 14 kasus peledakan bom sejak serangan bom Bali I hingga Hotel JW Marriott 2003.

Dudon menerangkan, untuk meracik bom seberat 20-30 kilogram—yang dibawa pelaku ke JW Marriott dan Ritz-Carlton—cukup sulit. Bahan baku peledak low explosive amat sensitif terhadap guncangan dan perubahan suhu yang mudah memengaruhi unsur kimiawi.

Menurut Dudon, bom yang digunakan memiliki kesamaan pada beberapa peristiwa peledakan bom pada masa lalu, termasuk di daerah konflik.

Pengamat intelijen, Dino Chrisbon, yang ditemui di tempat terpisah mengatakan, bom tersebut diracik oleh seorang pengganti Dr Azahari.

”Dia kemungkinan direkrut dari daerah konflik di Poso, Sulawesi Tengah, memiliki kemampuan merakit bom low explosive, serta merencanakan serangan,” kata Dino.

Ahmad Jenggot

Ahmady alias Ahmad Jenggot (37), warga Dusun Sigaru, Desa Sikaco, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Jateng, diduga tak ditangkap aparat kepolisian. Pria yang aktivitas kesehariannya sebagai penjual keset itu diketahui menyerahkan diri ke Kepolisian Daerah Jateng, Selasa lalu. Hal itu dituturkan Ketua RT 01 RW 07, Desa Sikaco, Mahsum Yusuf.

Mahsum menuturkan, setelah menghilang sejak penangkapan Saefudin Zuhri pada Juni lalu, Ahmady, Selasa lalu, pulang ke desanya. Dia langsung menuju rumah Kepala Dusun Sigaru, Sutarman. ”Dia ketakutan dengan adanya penangkapan setelah bom itu,” kata Mahsum.

Oleh Sutarman, Ahmady lalu dibawa ke Kepala Desa Sikaco, Suparno. Diantar oleh Suparno, Ahmady lalu ke kantor Polda Jateng di Semarang untuk menyerahkan diri.

Kepala Polda Jateng Irjen Alex Bambang Riatmodjo mengatakan, A (Ahmady) diduga terlibat terorisme. Menurut Alex, sejak 2001, A dipersiapkan sebagai eksekutor bom bunuh diri oleh sel Noordin M Top.

Di Cilacap, Ahmady tinggal bersama istrinya dan seorang anak perempuannya yang berusia delapan tahun, tetapi Ahmady kerap bepergian. Istrinya sedang hamil tujuh bulan.

Para tetangganya hanya tahu tujuan kepergian Ahmady itu untuk berdagang keset dan sapu ke Lampung meskipun tak pernah melihat dagangan yang dijual.(SF/SUP/ONG/MHD/EKI/EGI/HAN/APO/REK/MHF/NIT)

Sumber :
Kompas Cetak