Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 15:37 WIB
Sylviana Murni, Wali Kota "Cyber"
| Minggu, 2 Agustus 2009 | 03:14 WIB
|
Share:

Susi Ivvaty

Sylviana Murni. Sosoknya menjadi buah bibir saat memangku jabatan Wali Kota Jakarta Pusat pada 1 April 2008, sekaligus wali kota perempuan pertama di DKI Jakarta. Hingga kini pun tak habis cerita tentangnya. Wali kota yang cekatan, pintar, dan melek teknologi. Cantik pula.

Jangan khawatir kehabisan bahan kalau mengobrol dengan Sylvi. Ia akan meladeni lawan bicara mulai dari soal preman di kawasan Senen hingga filsafat pendidikan. Ia juga dengan senang hati membicarakan perihal minimnya kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup hingga soal agak pribadi, semisal kebiasaan minum susu (nonfat) setiap hari. Akan berbinar-binar matanya jika sampai pada tema teknologi informasi.

Seperti ketika kami sempat bingung menentukan lokasi pemotretan, Sylvi menyebut Monas karena rupanya ada Monas Cyber Zone, satu ruangan ber-hot spot di sana. Usul lain, di Chase Plaza, Jalan Sudirman, karena di sana ada Telkom Solution House. ”Saya kan senang utak-atik komputer, menjelajah internet. Saya ingin suasana yang cyber,” cetus None Jakarta tahun 1981 ini.

Jadilah kami janjian di Telkom Solution House. Di sela-sela wawancara, Sylvi kadang memencet-mencet tombol Blackberry-nya. ”Saat ini birokrasi itu sudah terbuka. Saya memilih bekerja tanpa batas ruang dan waktu. Untuk berkomunikasi dengan Pak Gubernur saya (Fauzi Bowo), kirim saja e-mail atau SMS. Jawaban langsung saat itu juga. Begitu juga dengan camat-camat dan lurah-lurah,” katanya.

Pelayanan publik

Teknologi informasi selain pintu gerbang menuju luasnya ilmu pengetahuan, juga pemangkas rantai birokrasi. Dengan teknologi, pelayanan publik akan makin baik. ”Pernah Pak Gubernur kirim e-mail, ada laporan dari warga Petamburan. Katanya gerobak-gerobak buah yang menutup jalan tidak mau dipindah oleh pemiliknya. Saya langsung forward ke camat. Gak ada 10 menit, semuanya clear,” tutur Sylvi.

Laporan soal jalan rusak dan selokan mampat masuk pula ke ponselnya. ”Saya sampai apal, ini SMS mau minta sumbangan, ini soal kerja sama. Sehari minimal masuk 50 SMS yang isinya berbeda,” kata Sylvi.

Itu baru SMS. Masih ada jendela lain, yakni lewat situs facebook. ”Kalau wali kota cepat dan mudah dihubungi, apa lalu meruntuhkan wibawanya? Enggaklah. Kita sudah di zaman teknologi. Prinsipnya, sepanjang urusan bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit?”

Wibawa itu, kata Sylvi, harus diletakkan pada tempatnya. Wibawa itu adalah sebuah kejujuran, tidak bisa dibuat-buat. ”Tapi, saya juga bisa marah, lho. Pernah ada rapat penting, terus ada staf tidak bisa datang. Wakilnya enggak ngerti persoalan. Saya langsung suruh dia keluar ruangan.”

Pernah ada SMS bernada ancaman? ”Ada, khususnya kalau masalah lelang (proyek). Tapi, saya kan punya delegation of authority, jadi itu bukan urusan saya. Biar semua mengikuti aturan,” tukasnya.

Beragam persoalan

Setahun lebih menjadi Wali Kota Jakpus yang memimpin 8 kecamatan dan 44 kelurahan, setahun lebih pula Sylvi menghadapi begitu banyak persoalan. Tantangan yang paling berat ia rasakan adalah mengubah perilaku dan cara pandang masyarakat terhadap kota. Rasa memiliki kota begitu minim sehingga tanggung jawab pun kurang.

Contoh paling gamblang adalah masalah lingkungan. ”Masih banyak orang tinggal di pinggiran rel kereta api, bantaran kali. Ini berat karena menyangkut kehidupan orang. Untuk mengatasi masalah seperti ini harus ada pendekatan personal. Lurah harus jadi urban manager,” terangnya.

Kasus pedagang buku kaki lima di Kwitang yang 12 tahun tidak beres, Sylvi hadapi dengan pendekatan personal pula. Ia menemui pentolannya. ”Saya bilang, untuk skripsi S-1, saya mencari buku tentang Tan Malaka juga di sini. Jual buku itu halal, tapi kalau dagang di tempat yang tidak semestinya apa itu halal? Saya carikan solusi tempat, di Pasar Senen lantai dua, ber-AC, dua tahun gratis,” paparnya.

Kalau ada orang bilang tidak mungkin, Sylvi selalu ingin mengubah itu menjadi mungkin. Ia ingat betul ucapan pakar ekonomi Rhenald Kasali, there is no change without you change your mind.

Maka itu, Sylvi berkeras ingin menjadikan Jakarta Pusat yang berlahan sempit ini bisa menghasilkan tanaman. ”Saya ingin ada panen raya,” cetusnya. Ia pun gencar mengampanyekan pemanfaatan lahan pekarangan dan pot untuk ditanami—misalnya—palawija, padi, kangkung, tomat, dan selada.

Begitulah Sylvi menghayati perannya sebagai seorang wali kota. ”Kalau bekerja saya selalu dengan empat ’As’.”

Maksudnya?

”Keras, cerdas, ikhlas, dan tuntas,” tandasnya. Tuntas, tas, tas....