WONOSARI, KOMPAS.com - Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD di Kabupaten Gunung Kidul tergolong pesat. Dalam lima tahun terakhir, telah berkembang 378 PAUD dengan 1542 guru PAUD di seluruh wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Pesatnya pertumbu han dan minat masyarakat terhadap PAUD ini belum diimbangi pemberian kesejahteraan yang layak bagi guru PAUD.
Ketua Forum PAUD Gunung Kidul Muslikhah mengungkapkan hanya sekitar 30 persen dari guru tersebut yang sudah memperoleh insentif dari pemerintah. Sebanyak 306 guru memperoleh insentif Rp 1,2 juta per tahun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sedangkan 100 guru mendapat insentif dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Gunung Kidul sebesar Rp 600.000 per tahun.
"Kami semua menyadari tentang pentingnya PAUD untuk mencetak manusia Indonesia yang berkualitas di masa depan. Dengan minimnya insentif, pek erjaan mengajar di PAUD lebih menyerupai sebagai pekerjaan sosial," ujar guru PAUD Mitra Yoga, Kecamatan Semin, Sumarni usai mengikuti sosialisasi tentang akreditasi lembaga PAUD di Kota Wonosari, Selasa (4/8).
Karena mayoritas orangtua murid di Kabupaten Gunung Kidul berprofesi sebagai petani, mayor itas PAUD di Gunung Kidul lebih banyak memberikan pendidikan kepada anak-anak pada sore hari. Biasanya, pendidikan PAUD dimulai pada pukul 15.00-17.00.
Selain menunggui anak belajar, forum PAUD juga menjadi ajang bagi orangtua untuk saling bertukar pengalaman tentang ilmu pengasuhan anak. Umumnya, kesadaran orangtua cukup tinggi untuk memasukkan anaknya ke pendidikan PAUD.
Muslikhah menambahkan bahwa forum PAUD terus aktif mensosialisasikan pentingnya PAUD kepada orangtua. Sosialisasi tersebut digalakkan terutama pada forum seperti PKK dan Posyandu. Peningkatan kualitas guru dilakukan dengan menggelar diklat guru PAUD setiap tahun.
Koordinator pengawas PAUD Gunung Kidul Suyitno mengaku masih prihatin karena hingga kini baru satu PAUD di Gunung Kidul yang sudah terakreditasi. Padahal akredit asi PAUD diperlukan untuk peningkatan kualitas dari PAUD yang ada.


