Sabtu, 19 April 2014

News / Megapolitan

Belajar Memaknai Hidup dari Seorang Hee Ah Lee (1)

Senin, 10 Agustus 2009 | 09:22 WIB

Baca juga

"Saat kita menerima keterbatasan, saat itulah kita melampauinya."  (Albert Einstein)


KOMPAS.com —
Jari jemari Hee Ah Lee (24) tampak lincah bergerak di atas tuts-tuts piano. Alunan sempurna "Joyful" karya Beethoven terdengar indah, begitu indah. Menyejukkan jiwa. Alunan sempurna yang hadir dari kepiawaian jari jemari memainkan tuts. Alunan sempurna yang hadir dari jari jemari yang tak sempurna. Malam itu, Kamis (6/8), Hee tampil di hadapan Ibu Negara, Ani Yudhoyono, dan puluhan anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Ia tampak anggun dengan balutan gaun berwarna biru yang bercorak batik.

Hee Ah Lee, seorang pianis asal Korea, memang mencengangkan dunia. Terlahir sebagai penderita ectrodoctyly atau dikenal dengan lobster claw syndrome (sindrom capit lobster), kedua tangan Hee Ah hanya memiliki dua jari yang bentuknya menyerupai capit dan huruf "V". Kedua kaki Hee Ah juga tak sempurna, hanya sebatas lutut.

Kelainan pada tangan dan kaki ini langka. Tidak terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Kondisi yang alaminya juga tergolong langka karena hanya ada satu kasus dari setiap 10.000 kelahiran. Bahkan, ada yang menyebutkan 1:18.000 kelahiran. Akan tetapi, ketidaksempurnaan itu tak pernah menghalangi Hee Ah menjadi “sesuatu”.

Dalam sebuah kesempatan wawancara khusus dengan Kompas.com, Jumat (7/8), Hee Ah bercerita tentang Tuhan, ibu, dirinya, piano, dan mimpinya.

Nama yang sarat makna

Hee Ah lahir pada 9 Juli 1985 dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun dan ayahnya yang sudah meninggal adalah seorang bekas tentara. Nama Hee Ah Lee, yang ditabalkan orangtuanya, sarat makna. Hee berarti suka cita atau kegembiraan. Ah adalah tunas pohon yang terus mekar, dan Lee merupakan nama keluarga. Pantas saja jika Hee Ah selalu menebar bahagia.

"Saya suka berbagi kebahagiaan, bertemu banyak orang, bermain dan bercanda. Itu semua membuat hidup saya bermakna," kata Hee Ah, saat berbincang di Hotel Sari Pan Pacific, tempatnya bermalam selama di Jakarta.

Kemudian, ia mengisahkan bahwa perkenalannya dengan piano sejak ia berusia 6 tahun. Awalnya, berlatih piano merupakan bagian dari terapi untuk memberikan tenaga pada jarinya.

"Tapi akhirnya, saya tidak menyangka bisa bermain piano di sini, juga di berbagai negara," ujar Hee Ah.

Puluhan negara sudah didatanginya, dan kali ini merupakan kali ketiga ia tampil di depan publik Indonesia. Hee lantas bercerita, ia sangat menggemari karya Chopin. Bahkan, sebuah karya Chopin, "Fantasie Impromptu", ia pelajari selama 5 tahun.

"Untuk fasih memainkannya, saya berlatih 10 jam sehari dalam 5 tahun. Andai saya terlahir lebih dulu, saya pasti akan bahagia jika bertemu Chopin," kisah Hee Ah.

Bagi Hee Ah, piano sudah seperti "pacar".  Kata dia, pianolah yang menjembatani pertemuannya dengan banyak orang di berbagai negara. Piano juga membuatnya bersyukur atas anugerah Tuhan pada dirinya. Selain piano, siapa lagi yang paling memberi arti dalam hidup Hee Ah?


(Bersambung)


Editor :