JAKARTA, KOMPAS.com — Pada zaman penjajahan dulu, para pejuang berjuang dengan taruhan nyawa, darah, dan air mata. Pada masa kemerdekaan, kita menikmati dan merayakannya dengan penuh kemeriahan. Suasana itu pula yang kental saat ratusan warga bersorak sorai menyaksikan lomba meniti pohon dan panjat bambu di Kali Malang, Jakarta Timur, Senin (17/8).
Di sepanjang Kali Malang, penuh dengan berbagai lomba yang diadakan masing-masing RT di kawasan permukiman di sekitar kali. Nah, yang paling menarik perhatian adalah lomba meniti pohon dan panjat bambu yang diadakan para tukang ojek. Lebih dari 10 tukang ojek mengikuti lomba sejak pukul 10.30.
Para peserta harus meniti pohon pinang sepanjang 5 meter yang telah dilumuri oli. Di ujung batang pohon pinang sudah diikatkan bambu yang di pucuknya tersedia beragam hadiah.
Bayangkan, dalam waktu dua jam, baru satu peserta yang berhasil mencapai puncaknya. Para peserta kerap tergelincir ke kali karena licinnya lumuran oli yang menutupi batang pohon.
Tak terlihat gurat lelah meski mereka harus mengulang meniti puluhan kali. Bagi para penonton, perlombaan ini menarik untuk disaksikan. Bahkan, tak hanya warga sekitar Kali Malang, ada pula yang datang dari Pasar Minggu dan daerah seputaran Jakarta lainnya.
"Tiap tahun saya ke sini, bawa anak-anak. Lihat pertandingan gini, rame. Kalo di rumah, lombanya gitu-gitu aja, kurang seru," ujar Rosita, warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang datang bersama suami dan seorang anaknya.
Banyaknya pengunjung dari berbagai kawasan di Jakarta dan sekitarnya membuat lalu lintas di Jalan Kalimalang macet. Apalagi, para pengendara mobil, termasuk para sopir mikrolet, sengaja berhenti atau melambatkan kendaraannya untuk sekadar menyaksikan kegembiraan itu.
Kepuasan penonton seakan tergambarkan dari teriakan yang mereka lontarkan. Hadiahnya memang tak seberapa. Terlihat beberapa kaus menggantung, termos air panas, payung, sajadah, dan lain-lain. Setelah dua jam, Fendi, seorang tukang ojek yang terkenal jawara, berhasil menjadi orang pertama yang mencapai puncaknya.
Fendi kerap menjadi juara pada lomba yang sama pada 2007 dan 2008. Ketika sampai di puncak, Fendi memilih mengambil hadiah berupa sebuah kemeja berwarna putih. "Yihaaaa...," teriaknya sambil mengibaskan kemeja yang berhasil diraihnya. Setiap peserta memang hanya diperbolehkan mengambil satu hadiah ketika berhasil mencapai puncak.
Perjuangan dua jam pun berbuah sebuah kemeja? Mungkin, bukan hadiah yang menjadi tujuan. Akan tetapi, dengan cara inilah kita bisa merayakan kemerdekaan pada masa kini. "Yang penting rame," kata Fendi.
Para tukang ojek ini mendapatkan dana swadaya warga untuk mengadakan beraneka pertandingan.

