BOGOR, KOMPAS.com — Dua gubuk milik Solihin di lahan pertaniannya di Kampung/Desa Tajur Halang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, dibakar warga setempat, Kamis (20/8) tengah malam. Penyebabnya, diduga warga tidak senang dengan buruh pendatang dan khawatir terorisme bersembunyi di kampung mereka.
Kepala Polres Bogor Ajun Komisaris Besar Suntana memastikan, pembakaran gubuk tersebut karena kesalahpahaman warga sebab tidak ada komunikasi yang baik antara Solihin dan pekerjanya dengan warga setempat. "Tidak benar di gubuk tersebut pernah ada aktivitas teroris. Warga hanya merasa aneh dengan tata cara bertani mereka, apalagi para pekerjanya dari luar kampung itu dan tidak bergaul dengan warga setempat," kata Suntana, Jumat (21/8).
Menurut Kepala Polsek Cijeruk Ajun Komisaris Aditiawarman Sindu, lahan pertanian seluas sekitar satu hektar bekas lahan perkebunan teh di Gunung Salak tersebut milik Solihin sejak lama. Untuk menggarap dan menanam sayur-mayur di sana, Solihin mempekerjakan buruh tani dari luar kampung/desanya.
Untuk keperluan tersebut, Solihin juga membangun dua gubuk. Satu gubuk ukuran 2 x 2 meter untuk tinggal buruh taninya, dan satu gubuk lagi yang luasnya lebih kecil digunakan untuk menyimpan pupuk dan keperluan bertani lainnya.
"Gubuk yang dibakar warga itu dipastikan tidak ada tanda-tanda pernah dipakai aktivitas teroris. Solihin sendiri sudah lama tinggal dan menikah dengan perempuan setempat dan anak mereka sudah besar-besar," katanya.
Aditiawarman menambahkan, kesalahpahaman warga kepada Solihin terjadi akibat setiap musim tanam atau panen, Solihin selalu memakai tenaga buruh tani berganti-ganti dan luar kampung/desanya, sementara di sana banyak buruh tani. Ditambah, Solihin tidak melaporkan kedatangan para buruh tersebut ke RT dan RW setempat.
Dua bulan lalu, RT/RW setempat pernah menegur Solihin karena menggunakan buruh dari luar. Saat itu Solihin beralasan, ongkos buruh asal Jawa yang didapat dari Cibinong atau Jakarta lebih murah. "Kalau buruh lokal, upahnya Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per orang per hari. Kalau dari luar, cukup Rp 25.000 per orang per hari ditambah beras dan ikan asin secukupnya," ujar Aditiawarman.
Tiga hari lalu, Solihin kembali mendatangkan dua buruh tani dan tidak melaporkannya ke RT/RW. Padahal, warga juga sedang tidak tentram karena musim terorisme. Terlebih lagi, para buruh tani asal Jawa tersebut melakukan ritual berdoa di lahan pertanian sebelum mereka menggarap lahan. Ritual semacam itu tidak dikenal di kampung/desa setempat. Warga pun marah mengusir buruh tersebut dan membakar dua gubuk yang ada.
Akibat insiden itu, Solihin ikut kabur. Sampai Jumat sore, ia belum pulang ke rumahnya. Diduga itu karena ia ketakutan. "Di satu sisi, kami menghargai sikap warga yang hati-hati dengan pendatang, mengingat masih adanya pelaku terorisme yang belum ditangkap. Namun, sangat disayangkan, warga bertindak sendiri, tidak melaporkan kecurigaannya pada aparat keamanan sehingga identitas pendatang baru itu tidak diketahui karena langsung diusir dari kampung," ungkap Aditiawarman.


