
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pengamat menuding kekacauan lalu lintas Jakarta adalah cermin perilaku pemimpinnya yang selalu membuahkan kebijakan tidak tepat. ”Perilaku pengendara, apa pun kendaraannya, brutal dan primitif. Semuanya egois,” kata Tulus Abadi, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Minggu (6/9). Lihat saja, tambah Tulus, sepeda motor yang menerabas trotoar sampai melawan arus serta mobil pribadi yang diisi satu-dua orang saja dan memenuhi semua ruas jalan. Angkutan umum, demi mengatasi tingginya persaingan, berhenti di sembarang tempat, Mobil pribadi dan angkutan umum juga tanpa merasa salah masuk ke jalur bus transjakarta. Berkendara sambil sibuk menelepon, lanjut Tulus, biarpun di atas sepeda motor, lazim dilakukan. Ancaman kecelakaan sepertinya tak terpikirkan. Rambu lalu lintas dianggap angin lalu. ”Perilaku barbar bukan murni salah pengendara, tetapi karena tidak ada regulasi yang dirancang agar pengendara disiplin. Pemerintah juga selama 40 tahun terakhir tidak bisa memenuhi ketersediaan angkutan massal yang baik,” kata Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk. Hamdi dan Tulus yakin penambahan jalan tol bukan jalan keluar bagi kekacauan lalu lintas. Mereka menuntut agar sistem transportasi massal segera direalisasikan seiring tindakan tegas oleh pemerintah bagi pengendara nakal.