Rabu, 29 Maret 2017

Megapolitan

Sekda: Kericuhan karena Warga Tidak Sabar

Senin, 21 September 2009 | 11:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyesalkan kericuhan yang terjadi ketika pembagian sembako dalam rangka open house dengan Gubernur Fauzi Bowo di Balai Kota Jakarta. "Ini kan bantuan rakyat miskin, tapi ya yang datang kan macam-macam dengan kepentingan yang macam-macam juga," kata Muhayat, Sekretaris Daerah DKI Jakarta, kepada para wartawan di Balai Kota, Senin (21/9) siang.

Pernyataannya berselang 1,5 jam dari kericuhan yang mengakibatkan puluhan orang sesak napas dan shock serta 2 orang dilarikan ke rumah sakit karena terinjak-injak. "Ini terjadi soal ketidaksabaran penduduk," ujar Muhayat.

Menurutnya, para warga berdesakan karena takut tidak kebagian sembako. Padahal, Gubernur telah menyiapkan 6.000 paket atau lebih banyak 2.000 paket dari tahun lalu. "Persediaan cukup. Kita bisa atasi. Persediaan kita siapkan," ucap Muhayat.

Paket yang disediakan terdiri dari minyak goreng, gula, susu, dan makanan kecil. Juga ada uang Rp 40.000. Ini semua dari upaya Gubernur bersama beberapa korporasi. Lebih lanjut, untuk korban terluka dan pingsan biayanya akan ditanggung Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dua orang yang dilarikan ke RSUD Tarakan adalah Satneh (38) dan Dartin (50). "Biaya adalah tanggung jawab Dinas Kesehatan DKI Jakarta," ujarnya.



Ke depan, Muhayat menambahkan, akan dibicarakan lagi bagaimana cara yang tepat dan bijaksana supaya kejadian serupa tidak terulang kembali. Untuk acara open house bersama Gubernur sekaligus pembagian sembako, Pemprov telah menyiagakan 300 petugas keamanan dan 3 ambulans.

Editor :