JAKARTA, KOMPAS.com — Seusai kebakaran hebat yang melanda wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (27/9) kemarin, sore ini warga mulai membersihkan reruntuhan rumah mereka. Puing-puing bangunan tampak menumpuk hingga ke jalan-jalan di sekitar lokasi kebakaran.
Tak hanya warga korban kebakaran, puluhan pemulung juga ikut mencari sisa-sisa puing yang masih bisa dipergunakan. Kedatangan pemulung ini beberapa kali sempat menimbulkan ketegangan dengan warga. Beberapa warga curiga, mereka hendak memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan dari sisa-sisa reruntuhan.
"Barang yang sisa sebenarnya enggak banyak. Tapi ya kita beresin aja. Soalnya bangunannya masih bisa dibenahin lagi," kata Slamet, salah seorang warga, Minggu (28/9) sore.
Selagi membersihkan puing-puing rumahnya, Slamet menyuruh saudaranya yang lain untuk menjaga perabotan-perabotan rumah yang ditumpuknya begitu saja di dekat tenda penampungan. "Banyak maling. Kalau enggak dijagain ya bisa pada ilang. Apalagi juga banyak pemulung," tambahnya.
Hingga sore ini masih ada ratusan warga yang bertahan di tenda-tenda pengungsian. Belum adanya tanda-tanda renovasi ataupun relokasi tempat tinggal memaksa mereka untuk tinggal di tenda-tenda yang jauh dari memadai itu.
Ketua RT 09 RW 12 Penjaringan, Sobari, mengatakan, hampir semua warganya bertahan di tenda pengungsian. "Sekarang ya sifatnya menunggu bantuan saja. Masih butuh banyak bantuan makanan dan obat-obatan," kata Sobari.
Kebakaran di Penjaringan ini sekurang-kurangnya telah menghanguskan 1.158 bangunan berupa rumah dan kontrakan. Akibatnya, 5.761 orang dari 1.446 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.


