Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 10:17 WIB
Jika Kampanye Batik Dilakukan Sambil Bersepeda
Dwi Bayu Radius | Jumat, 2 Oktober 2009 | 14:29 WIB
|
Share:

Kompas/Raditya Helabumi
Dengan mengenakan busana batik, mahasiswa, dosen, karywan, serta warga sekitar kampus UK Petra, Surabaya, mengikuti karnaval batik di sekita rlingkungan kampus, Jumat (02/10). Karnaval digelar sebagai kebanggaan dan apresiasi atas karya batik Indonesia yang telah masuk ke dalam 76 warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

TERKAIT:

KOMPAS.com - Kring.. kring.. toet.. toet.., demikian gemuruh riuh rendah bel sepeda di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/10). Sekitar 300 pengendara sepeda seakan tak sabar menanti saat keberangkatan. Uniknya, mereka semua mengenakan pakaian seragam, yakni batik.

Sudah sejak sekitar pukul 07.00, mereka telah berkumpul di depan rumah dinas wakil gubernur Jabar Dede Yusuf, Jalan Ir H Juanda. Akhirnya, lebih kurang satu jam kemudian sang tuan rumah pun bertindak sebagai pemberi aba-aba untuk melepas rombongan.

Pagi itu, mereka mengikuti kampanye batik sambil bersepeda. Beraneka macam jenis sepeda yang ikut serta terlihat di sana. Beragam pula tingkah polah pengendaranya. Pemilik sepeda gunung, lipat, hingga kumbang tak mau ketinggalan berpartisipasi.

Bahkan, komunitas Low Rider penggemar sepeda ceper ikut memeriahkan konvoi tersebut. Ada pula kendaraan dengan tampilan sudah seperti sepeda motor, namun tanpa mesin. Pengendaranya tampak santai mengayuh pedal. Aneka kostum para peserta pun bagaikan karnaval.

Tak hanya kemeja batik dikenakan tetapi juga topi tuan tanah Belanda, lurik, dan payung geulis khas Jabar. Klakson yang biasa dipasang tukang es krim menjadi aksesoris khas sepeda lainnya. Rombongan pengendara sepeda dipimpin Ketua Umum Yayasan Batik Jabar (YBJB) Sendy Yusuf.

Istri Dede Yusuf itu mengayuh sepeda dengan kecepatan rata-rata 30 kilometer per jam. Sesekali pemandu rombongan meneriakkan yel untuk memacu semangat peserta lain. Jeritan Salam batik, dari sang pemandu akan disambut gemuruh, Go.. Go.. Batik Jabar, dari para pengendara sepeda lain.

Mereka menyusuri rute Dago, Jalan RE Martadinata, Jalan Citarum, Jalan Diponegoro, dan Lapangan Gasibu. Dalam waktu sekitar 45 menit, rombongan yang dikawal sepeda motor pengawal dengan penjagaan polisi pengatur lalu lintas sudah sampai di tujuan.

"Capek sih, tapi saya tetap semangat untuk menyampanyekan batik melalui cara yang berbeda yaitu dengan bersepeda," ujar Sendy seraya agak terengah-engah.

Menurut panitia Kampanye Batik Sambil Bersepeda, Raka Zaipul, rombongan antara lain terdiri dari YBJB, komunitas Bike to Work Chapter Bandung, Bike to School, Paguyuban Sepeda Baheula, Downhill, Low Rider, Bank Indonesia Bandung, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar.

Kampanye juga digelar untuk menyambut pengakuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) terhadap batik sebagai bentuk budaya warisan dari Indonesia. Pengakuan diresmikan Jumat ini di Abu Dhabi.

Dede Yusuf mengatakan, pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar telah mengenakan pakaian batik dua kali seminggu. Kalau masyarakat bisa mengenakannya setiap hari lebih baik karena merupakan kebanggaan atas harga diri bangsa, ujarnya.

Dalam sambutannya, ia meminta pemilik sepeda merasakan duka korban gempa di Sumatera dan memberikan sumbangan sekadarnya. "Terakhir, presiden hanya mengimbau memakai batik tapi tidak bersepeda. Maka, saya tak ikut rombongan," katanya disambut riuh rendah suara pengendara sepeda.