TANJUNGPINANG, KOMPAS.com - Anak-anak korban gempa Sumatra Barat di Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, mulai diserang penyakit diare, akibat kurangnya pasokan air bersih dan tinggal di tenda-tenda darurat.
"Anak-anak dan bahkan orang dewasa sudah diserang penyakit diare, karena air bersih tidak tersedia dan tidur di tenda seadanya yang dibangun warga dari terpal plastik," kata Ruziana, Minggu (4/10).
Dia mengatakan tenda yang disediakan pemerintah bagi korban gempa belum ada, sehingga warga terpaksa tidur di tenda-tenda yang mudah bocor disiram hujan dan terkena tiupan angin malam yang dingin.
"Kami sangat membutuhkan tenda, makanan, air bersih dan obat-obatan bagi penderita diare," tambahnya.
Bantuan sembako menurut dia sudah pernah datang sekali namun tidak mencukupi untuk kebutuhan warga. "Untuk satu keluarga kami hanya dapat satu liter beras dan satu butir telur," ujarnya.
Ia mengaku mobil bantuan sembako, serta obat-obatan hanya melewati perkampungan mereka menuju daerah Tandikek, tempat yang banyak menelan korban jiwa.
"Kami yang selamat juga butuh makan dan minum serta tempat berteduh, karena rumah sudah hancur dan harta benda kami terkubur bersama reruntuhan bangunan," ujarnya.
Kanagarian Sicincin yang terletak di jalan utama menuju Padang dari Bukittinggi, juga mengalami kerusakan yang sangat parah, walaupun korban meninggal tidak terlalu banyak seperti daerah Tandikek, Padang Pariaman.
Menurut dia hampir seluruh rumah di Sicincin rata dengan tanah, sehingga masyarakat korban gempa sangat membutuhkan tenda dan bahan makanan. "Rumah yang rusak berat di Kanagarian Sicincin sebanyak 1.800 lebih, termasuk rumah kami," ujarnya.
Kekecewaan warga menurut dia sudah mulai muncul, karena sampai saat ini perhatian dari pemerintah setempat tidak ada.
"Bupati atau pemerintah ditempat kami tidak pernah turun langsung meninjau korban gempa ditempat kami, walaupun hanya untuk menunjukkan rasa simpatinya agar masyarakat sedikit terobati," keluhnya.


