Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:00 WIB
ESP dan Pemkab Magelang Bangun 100 Sumur Resapan
Regina Rukmorini | Edj | Selasa, 13 Oktober 2009 | 18:31 WIB
|
Share:

MAGELANG, KOMPAS.com - Tahun ini, Environmental Services Programme (ESP) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang akan membangun 100 sumur resapan. Upaya ini dilakukan demi menambah pasokan air bagi mata air yang selama ini debitnya makin mengecil akibat kritisnya kondisi hutan.

Koordinator ESP Jawa Tengah-DIY Nanang Budiyanto mengatakan, pembuatan sumur resapan ini merupakan upaya sementara yang dapat dilakukan sembari menunggu program reboisasi berjalan dan pohon-pohon kembali tumbuh, dan berfungsi seperti semula, menyimpan cadangan air.

"Jika hanya mengandalkan air, maka bertambahnya debit debit air dari mata air baru akan terasa setelah pohon berumur sekitar 15 tahun," ujarnya, dalam acara workshop tentang perlindungan sumber air di Hotel Sriti, Kota Magelang, Selasa (13/10).

Sebanyak 100 sumur resapan berkapasitas delapan meter kubik tersebut akan dibangun untuk menambah debit air di tujuh mata air di empat kecamatan yaitu Kajoran, Grabag, Pakis, da n Ngablak. Dari 100 sumur itu, 70 sumur resapan akan dibangun oleh ESP, dan 30 sumur resapan lainnya akan dikerjakan oleh Departemen Pekerjaan Umum, dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang.

Menurut Nanang, program pembuatan sumur resapan ini sudah dilakukan selama dua tahun terakhir. Pada tahun 2008, ESP telah membangun 55 sumur resapan bagi dua sumber air di Kecamatan Grabag dan Ngablak.

Margono, kepala Badan Musyawarah (Bamus) Desa Ngrancah di Kecamatan Grabag, bersamaan dengan rencana ESP untuk membangun 20 sumber air resapan bagi sumber air Banyutarung di Desa Ngrancah, penduduk desa sendiri juga berencana untuk membangun sumur-sumur resapan di tiap-tiap rumah.

"Program membuat sumur resapan di dekat rumah ini sudah menjadi kesepakatan bersama warga di empat desa yang memanfaatkan air dari sumber air Banyutarung," ujarnya.

Dengan upaya ini, maka suplai air dari sumber air Banyutarung yang mengalir ke rumah-rumah warga, bertambah semakin banyak. Di Desa Ngrancah sendiri, pembuatan sumur resapan ini nantinya menjadi kewajiban yang harus dipatuhi warga dan dituangkan dalam peraturan desa (perdes).

Sumber air Banyutarung sendiri terletak di Gunung Kelir, kaki Gunung Telomoyo. Debit sumber air ini dirasakan semakin mengecil pada awal tahun 1980-an, setelah hutan di Gunung Telomoyo dirusak, dan banyak pohonnya ditebang untuk bahan baku mebel, dan demi kelancaran proyek pengaspalan jalan, mendukung pembukaan kawasan Gunung Telomoyo sebagai obyek wisata.