BAGI kebanyakan orang yang telah dioperasi bypass jantung, umumnya hanya menjalani terapi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Namun tidak demikian dengan Sutrisno Resogoyono (59). Selain menjalani terapi rutin di rumah sakit itu, dalam setahun terakhir ini dia juga kemana-mana selalu bersepeda.
Bahkan boleh dibilang Sutrisno kini sudah menjadi penggila sepeda. Kalau sebelumnya dia bersepeda karena senang, sekarang dia bersepeda sudah seperti kecanduan. Setidaknya dia bersepeda sepanjang 20-30 kilometer per hari. Untuk itu, Sutrisno sekarang tidak segan-segan untuk meng-upgrade sepedanya jika terasa ada bagian yang kurang nyaman.
Adakalanya dia kalau sedang ingin pergi ke Bogor, misalnya, maka jalanlah dia sendirian ke Kota Hujan itu. ”Bagi saya, sekarang bersepeda sudah tidak ada jarak yang jauh. Artinya, kemanapun ingin bersepeda, saya lakukan saja dengan senang dan tanpa beban,” ujar Sutrisno yang juga mantan instruktur teknik di Sekolah Penerbangan Curug, Tangerang, Banten.
Dalam bersepeda, dia tanpa dibebani dengan target waktu dan jarak. Kalau cape berhenti. Bahkan kalau sudah kemalaman di suatu tempat, bapak dua anak dan kakek satu cucu ini, mencari tempat penginapan untuk istirahat. Oleh karena itu, dia selalu lapor kepada keluarganya yang tinggal di Perumahan Vila Melati Mas Serpong, Tangerang, jika tidak pulang ke rumah setelah bersepeda jarak jauh.
Kegilaan lain yang dilakukan Sutrisno dalam bersepeda adalah ketika mengelilingi Pulau Bali dengan jarak 500 kilometer selama lima hari pada awal Agustus 2009 lalu. Selama bersepeda, dia hanya membawa kaos dan celana masing-masing dua buah. Tidak hanya di Pulau Dewata, dia bersepeda hingga juga menyeberang ke daerah Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Dari daerah itu, dia kembali lagi ke Denpasar, Bali.
Membutuhkan keberanian
Orang yang bersepeda sendirian apalagi seorang penderita jantung yang telah mengalami operasi bypass seperti Sutrisno, tentu membutuhkan keberanian besar untuk melakukan kegiatan ini. ”Sebenarnya apa yang saya lakukan itu (keliling Bali dengan bersepeda) tidak dianjurkan oleh dokter,” jelas Sutrisno seraya memperlihatkan foto-fotonya selama menjelajah Pulau Dewata.
Sebelum berkeliling Bali, Sutrisno juga tidak asal bersepeda. Sebelum gowes, dia menitipkan dirinya kepada temannya, Ketut Subamia, yang bekerja di PT Angkasa Pura I di Denpasar. Dia juga melapor ke Rumah Sakit Sanglah Bali, agar kalau ada sesuatu yang menimpa dirinya selama bersepeda, bisa ditangani rumah sakit itu karena dia juga pemegang kartu asuransi kesehatan (Askes).
Oleh karena itu, setiap tiga jam Sutrisno selalu mengirim kabar kepada temannya. Tidak hanya itu, nomor kontak dan alamat temannya itu sengaja dipasang di sepedanya selama berkeliling Pulau Dewata.
Bagi Sutrisno , operasi jantung yang telah dijalaninya bukanlah akhir dari segalanya. Banyak upaya yang bisa dilakukan penderita jika ingin tetap bertahan hidup, diantaranya dengan bersepeda. Meski demikian, hingga sekarang dia selalu membawa obat-obatan yang diperlukan seperti layaknya penderita jantung seperti obat untuk mengencerkan darah dan menurunkan kadar gula dalam darah.
Sebenarnya Sutrisno mulai bersepeda sekitar setahun lalu. Kalau dulu sebelum operasi jantung, jalan kaki sebentar saja, dadanya sudah terasa sesak.Nafas pun terasa cepat memburu, dan lekas cape. Demikian juga jika terkena polusi udara kendaraan, dia langsung pilek. Namun sekarang dia justru akan ”sakit” kalau tidak bersepeda meski hanya sehari saja.
Dia divonis memiliki penyakit jantung koroner pada tahun 2004. Ketika itu, hidup Sutrisno ibarat sudah di ujung tanduk. Wakti itu, dokter jantung di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta menyarankan agar Sutrisno dioperasi bypass atau dipasang kateter. Namun, dia masih merasa ragu-ragu karena ketakutan akan risikonya. Perang batin dalam dirinya terus berkecamuk, antara ingin sembuh dari penyakit jantung dan rasa takut yang menghantui jika dirinya dioperasi atau dipasang alat kateter.
Di saat sedang bimbang itulah, Sutrisno malah terkena serangan jantung pada 25 Desember 2007. Dia pun kemudian memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Setelah bersonsultasi dengan banyak orang termasuk dengan besannya yang juga seorang dokter, akhirnya dia memberanikan diri menjalani operasi pada 23 Januari 2008.
Bekas operasi bypass jantung di bagian dadanya sengaja diperlihatkan Sutrisno kepada Kompas. Urat vena di bagian kaki kiri dan kanan Sutrisno, masing-masing sepanjang 31 sentimeter, juga sengaja diambil untuk keperluan operasi jantung itu. Dengan rekam jejak penyakit dan kegiatan bersepeda yang hingga kini terus dilakukannya, Sutrisno ingin berbagi pengalaman terutama kepada sesama penderita jantung.
”Vonis penyakit jantung bukanlah akhir dari segalanya. Saya sekarang menjadi kecanduan bersepeda karena kegiatan ini sekaligus menjadi terapi bagi kesehatan saya,” ujar Sutrisno. Pada awalnya, keluarganya merasa khawatir juga dengan kegiatan bersepeda yang dilakukan Sutrisno.
Namun, alih-alih Sutrisno berhenti bersepeda, kini seluruh keluarga justru mengikuti jejaknya untuk bersepeda. Setiap anggota keluarganya, kini sudah memiliki sepeda kebanggaannya masing-masing. Oleh karena itu tidak heran bila sudah berkumpul di rumah, topik pembiacaran soal sepeda bisa menjadi semarak dan berlangsung berjam-jam.
Meskipun Sutrisno bersepeda sendirian dan lebih banyak melawati jalur touring, namun dia juga mengetahui jalur sepeda offroad yang bisa digunakan oleh sejumlah komunitas sepeda. Misalnya, trek sepeda offroad di Jalur Pipa Gas (JPG) di kawasan Serpong dan kawasan Cihuni, Tangerang, Provinsi Banten.
Pernah suatu waktu dia terjungkal waktu menjajal trek JPG dan sempat dibawa ke rumah sakit selama enam jam, namun setelah diketahui tidak ada organ tubuh yang rusak parah, Sutrisno kembali bersepeda. Prinsip Sutrisno dalam bersepeda, berusaha agar emosi tidak ikut terlibat dan tidak memikirkan masalah lain sehingga dia bisa lebih santai melakukannya.
Tjahja Gunawan Adiredja


