JAKARTA, KOMPAS.com — Dua tersangka teroris yang baru tewas dalam penggerebekan, Syaifudin Zuhri dan M Syahrir, ternyata sudah tinggal di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, sejak bulan Ramadhan lalu. Keduanya menyamar dengan nama lain dan mengaku sebagai teknisi komputer dan penjual es campur.
Hal tersebut diceritakan ML, seorang mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) yang merasa selama ini mungkin dijadikan target sebagai "pengantin" oleh kedua buron tersebut. Kepada Persda Network, ML mengaku bertemu Zuhri dan Syahrir di kawasan Ciputat sejak pertengahan bulan Ramadhan atau bulan September lalu.
Teroris kakak beradik tersebut sejak bulan Ramadhan sering tarawih di Masjid As Salam, yang hanya berjarak 100 meter dari rumah kos Zuhri dan Syahrir. Di Masjid itulah awalnya Zuhri-Syahrir bertemu dengan Z, pemuda asal Jawa Timur yang sedang mencari pekerjaan di Jakarta. Z adalah teman dari ML. Pertemuan itu persisnya terjadi malam ke-20 bulan Ramadhan.
Kepada Z, Zuhri yang pandai mendoktrin membuka pembicaraan soal hukum-hukum Islam. Z, yang pernah mondok di pesantren, merasa obrolannya nyambung. Ketika itu Zuhri bersama dengan Syahrir. Karena percaya, Z memberitahukan tempat tinggal sementaranya kepada Zuhri-Syahrir.
Bak gayung bersambut, Zuhri dan Syahrir mendatangi tempat tinggal sementara Z yang menumpang di rumah kos temannya di kawasan Ciputat. Layaknya tamu, saat bertandang ke rumah kos Z, Zuhri-Syahrir menyalami penghuni kos lainnya yakni R dan ML. Kepada mereka, Zuhri mengaku bernama Rahman, sedangkan Syahrir bernama Sidik.
Di kosan tersebut, hanya ML yang membuka diri kepada Syahrir-Zuhri. Kepada ML, Zuhri membuka obrolan soal mitos tujuh abad Islam (Islam maju abad 7-14, Islam mundur abad 14-21, dan Islam maju lagi abad 21-seterusnya). Kepadanya, Zuhri berkata, "Islam akan mengalami kemajuan kembali. Pertanyaannya apakah kita mau sebagai penonton atau pelaku juga," tiru ML.
Sebagai mahasiswa baru, ML sempat kagum dan terpesona. Apalagi, Zuhri juga lihai bercerita panjang soal Revolusi Perancis dan Perang Dingin di Eropa. "Nada bicaranya halus banget. Saya kagum dengan pengetahuannya saat berbicara pada malam pertemuan pertama itu," ujar ML.
Kepada ML, Rahman alias Zuhri mengaku bekerja sebagai teknisi komputer di Pasar Ciputat. Sedangkan Sidik alias Syahrir mengaku berjualan es campur di Ciputat. Zuhri-Syahrir mengaku tinggal di Ciputat, tetapi tidak mengatakan alamat lengkapnya. Ia tidak menyangka kalau dua tamunya tersebut adalah teroris buronan Densus 88 Antiteror.(YOG)


