Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:44 WIB
Warga Sekitar Situ Antap Resah
Pingkan E Dundu | made | Senin, 26 Oktober 2009 | 18:14 WIB
|
Share:

KOMPAS/PINGKAN E DUNDU
Situ Antap di Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Senin (26/10).

TERKAIT:

CIPUTAT, KOMPAS.com - Rencana perluasan pembangunan perumahan di atas lahan Situ Antap, Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan kian meresahkan warga di sisi barat, selatan dan utara kawasan itu. Meski lahan itu baru ditembok dan diuruk, warga sudah merasakan dampaknya. Akibat penyempitan saluran, rumah warga di sekitar tembok tergenang air. Sebagian besar warga mengeluh mulai kekurangan air tanah.

Seperti yang dialami Ny Wati (45), warga yang tinggal di sekitar 4 meter dari tembok (di sisi selatan dari situ). "Setiap kali hujan lebat, saya harus siaga dan bersiap-siap mengangkut barang dagangan," ujar Wati, yang membuka warung kelontongan. Langkah itu dilakukan karena setelah situ ditembok tahun 2008, kata Wati, setiap kali hujan rumahnya tergenang air.

Hal senada dikatakan Ny Hom (40), tetangga Wati. "Sebelum situ ditembok dan diuruk, air got lancar. Tetapi setelah ditembok, air masuk dalam rumah," jelas Hom sembari menunjukkan saluran air atau got yang berada di sekitar 2 meter di depan rumahnya.

Sejauh pengamatan, Senin (26/10), saluran air yang masuk dalam Situ Antap hanya melalui dua gorong-gorong dengan diameter sekitar 60 sentimeter. Terbatasnya saluran air, mengakibatkan air dari permukiman penduduk yang berada di atas dan dan sekitar situ harus antre masuk dalam gorong-gorong tersebut. Akibatnya, sebagian besar air mengalir di samping tembok. Kondisi semakin buruk di beberapa sudut sekitar pinggiran tembok penuh dengan sampah rumah tangga.

Sebelum diuruk, situ itu merupakan tempat penampungan air dari sejumlah komplek yang berada di atas situ tersebut, seperti komplek Pekerjaan Umum (PU), Flamboyan, Markas Besar Angkatan Darat (Mabad), dan warga Rempoa. Warga menjadi kebingungan karena dengan pengurukan dan penembokan tersebut aliran air menjadi tersendat.

Kekurangan air

Selain ancaman banjir di musim hujan, warga juga mulai merasakan kekurangan air tanah pada saat musim kemarau. Sebab, di sejumlah titik di kawasan situ merupakan titik mata air. "Sekarang ini, sumur-sumur warga yang ada sudah banyak yang mengering. Ya, terpaksa kami harus lebih mendalamkan pantekan air," kata Ny Nani, warga Rempoa.

Menurut Nani, sebelumnya dia memiliki sumur dengan kedalaman air 10 meter. Namun, sejak situ diuruk dan ditembok dia harus menambah kedalaman air menjadi 20 meter. "Dengan kedalaman 15 meter memang ada air, tetapi airnya jelek. Tapi kalau kedalaman 20 meter, airnya bersih," jelas Nani.

Nukman, warga komplek Flamboyan juga merasakan hal yang sama. Sementara, Tonison, juru bicara Beranda Townhouse mengatakan, lahan yang mau dijadikan pengembangan perumahan tersebut status hukumnya bukanlah situ. Akan tetapi, sudah menjadi tanah milik perorangan. "Pemagaran terpaksa kami lakukan karena selama ini tanah tersebut ditinggali oleh penghuni liar," jelas Ginting.

Menurut dia, pihaknya memiliki dokumen pertanahan yang lengkap atas kepemilikan lahan tersebut. Termasuk juga dokumen perijinan untuk pembongkaran yang disertai pemagaran lahan itu.

Mengenai kekhawatiran warga akan terkena banjir akibat proyek pengembangan perumahan ini, Ginting mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan RT, RW, lurah dan camat. Dari hasil pertemuan itu, kata Ginting, pihaknya akan tetap menyediakan saluran air untuk menampung air limpahan.

Situ Kayu Antap, atau sering disebut Situ Antap dalam kondisi memprihatinkan. Situ yang terletak di dekat Situ Gintung itu kehilangan lebih dari separuh lahannya. Lahan konservasi ini semakin terancam karena diambil alih dan dimiliki perorangan. Pagar tembok kokoh setinggi 3 meter mengelilingi situ seluas 1,48 hektar. Pagar itu menyatu dengan tembok pembatas kompleks perumahan Beranda Townhouse yang tepat berdampingan dengan Situ Antap. Tidak ada satu celah pun di antara pagar beton itu yang memungkinkan warga sekitar mendekati tepi situ. Pagar beton itu dibangun sejak Oktober 2008. Jika pada April lalu sebagian lahan masih ditumbuhi semak belukar, kini lahan tersebut sebagian sudah diurug.

Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cirendeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar. Tepat berseberangan dengan Situ Gintung, ada situ berukuran lebih kecil yang sekarang sudah diuruk dan menjadi pusat perbelanjaan. Kemudian, ada Situ Rompong, Situ Antap, dan satu situ lagi yang juga sudah menjadi permukiman. Situ itu ini dulu dihubungkan dengan anak-anak sungai (Kompas, 17 April).