KOMPAS.com - Bencana banjir Situ Gintung yang terjadi tujuh bulan silam masih terekam di ingatan Maimun (47), pengusaha furnitur di Kampung Gintung, Kelurahan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Setiap kali benaknya kosong, bayangan dua karyawannya yang terseret banjir selalu melintas. Bagaimana tidak, salah satu karyawannya yang meninggal itu sedang hamil enam bulan. Waktu itu, karyawatinya itu bersama suaminya sedang menjaga tempat usaha furniturnya. ”Selain kehilangan dua karyawan, saya kehilangan tempat usaha dan aneka bahan baku dan material furnitur senilai sekitar Rp 1 miliar,” kata Maimun sembari menyeruput kopi panas, beberapa waktu silam. Banjir bandang Situ Gintung yang terjadi pada 26 Maret sekitar pukul 05.00 selain memakan ratusan korban tewas dan meluluhlantakkan permukiman, juga menghancurkan tempat-tempat usaha warga Kampung Gintung. Tempat-tempat usaha itu antara lain pabrik tahu, industri rumah tangga furnitur, dan rumah kos atau kontrakan. Peristiwa itu mengakibatkan sejumlah pengusaha industri rumahan dan pemilik kontrakan bangkrut. Mereka terpuruk dan tertekan lantaran usaha yang menjadi sumber penghidupan selama puluhan tahun itu menghilang dalam hitungan detik. ”Waktu itu puluhan furnitur pesanan yang sudah jadi dan sudah dibayar pelanggan rusak. Akibatnya, sampai saat ini saya masih berutang Rp 250,6 juta,” kata Maimun. Untuk menghidupi istri dan dua anaknya yang masih bersekolah serta melunasi utang, Maimun berupaya bangkit dari keterpurukan. Setelah tiga bulan pascabanjir Situ Gintung, dia berupaya mencari modal untuk memulihkan tempat usahanya. Dari teman-teman yang bersimpati, Maimun mendapat bantuan modal Rp 30 juta. Adapun dari rumah zakat, Maimun memperoleh pinjaman tanpa bunga sebesar Rp 4,5 juta. Meski omzetnya tidak sebanding dengan omzet sebelum banjir, Maimun bersyukur lantaran usahanya mulai membaik. Namun, sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membayar utang. ”Untuk memaknai kebangkitan usaha, saya mengganti nama perusahaan dari Gunung Raya menjadi Bangket Sejati,” tutur Maimun. Kerugian besar juga dialami pengusaha tahu Gintung Sari Jaya, Mabruri (60) dan Nana Rahdiana (34). Pabrik tahu beserta perlengkapan produksi bapak-anak itu ludes ditelan banjir. Mereka pun merugi sekitar Rp 300 juta. Selain itu, mereka juga kehilangan pelanggan, dari 18 pedagang tahu menjadi 12 pedagang tahu. Pasalnya, selama tiga bulan pascabanjir, pabrik tahu mereka tidak berproduksi sama sekali. ”Kami tidak ingin pabrik tahu yang sudah dirintis sejak 30 tahun silam ini terbengkalai. Untuk itu, kami berupaya merintisnya kembali. Modalnya berasal dari penjualan tiga mobil dan pinjaman tanpa bunga rumah zakat Rp 50 juta,” kata Nana. Nana yang sebelumnya memproduksi 101.920 tahu per hari, kini hanya mampu memproduksi 56.000 tahu per hari. Omzetnya pun turun dari Rp 9 juta per hari menjadi Rp 5 juta per hari. ”Meski kecil dan habis untuk membayar utang, pendapatan itu adalah anugerah Tuhan. Kami mampu membangun pabrik tahu dari nol,” kata Nana. Hal serupa menimpa para pemilik rumah kos dan kontrakan yang tinggal di Kampung Gintung. Cecep (63) harus kehilangan kontrakan dengan lima kamar, sementara Dailami (45) kehilangan rumah kos dengan sebelas kamar. Sebelum tersapu banjir, Cecep mendapatkan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan dari rumah kontrakan, dan Dailami mendapatkan Rp 2,75 juta per bulan dari usaha rumah kos. Untuk melanjutkan hidup, mereka mencari pekerjaan baru. Dailami kemudian berbisnis biro jasa pembuatan SIM dan STNK dengan penghasilan Rp 2 juta per bulan. Adapun Cecep baru merintis usaha penjualan antibiotik alami. ”Apa pun pekerjaannya


