KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Ketika Ani Berdansa dengan Kanker (1)
Laporan wartawan NOVA Henry Ismono
Sabtu, 7 November 2009 | 13:53 WIB
Nova/Henry Ismono
Siti Aniroh atau Ani

KOMPAS.com — Siti Aniroh (32) amat galau ketika divonis menderita kanker payudara. Segala sakit mesti diterima, termasuk ketika payudaranya mesti diangkat. Namun, ibu satu anak yang akrab disapa Ani itu tak mau larut dalam kepedihan. Bahkan, ia rajin mendampingi para penderita kanker. Inilah ceritanya saat ditemui di Yogyakarta.

Semula tak ada yang terasa aneh di tubuhku sampai ketika aku berniat memberi adik bagi Awan Cahya Aditya (7), buah cintaku dengan Iwan Setiyawan (40). Saat itu Maret 2006, Awan berusia 4 tahun. “Kalau mau hamil lagi, tubuh harus siap,” begitu kata dokter kandungan langgananku. Dia tahu persis, saat hamil Awan aku sering bermasalah. Pernah muntah-muntah sampai dehidrasi, bahkan sampai harus bed rest sekian hari.

Sesuai saran dokter, kuperiksa sendiri tubuhku. Salah satunya dengan memeriksa payudaraku lewat Sadari (Periksa Payudara Sendiri). Aku tersentak ketika menemukan benjolan kecil di payudara sebelah kiri. Memang, sih, tak terasa sakit, tapi tetap saja membuatku khawatir.

Untuk meyakinkan diri, kuperiksakan ke dokter. Aku masih ingat persis, 14 Maret 2006, ditemani Mas Iwan, kami mengunjungi dokter bedah umum, di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Aku menemuinya karena di rumah sakit itu tak ada ahli kankernya.

“Mungkin tumor jinak atau kanker. Supaya pasti, Ibu harus ke ahli kanker,” katanya. Hari itu juga kucari ahli kanker. Tanpa pemeriksaan laboratorium, dokter bilang, aku mengidap kanker payudara. Tak ada penjelasan lebih lanjut. Kalut dan lemaslah aku.

Tujuh Dokter Tak Simpatik
Sungguh aku tak sanggup berpikir tenang. Bahkan, aku merasa dia dokter sial karena memvonis tanpa memeriksa intensif. Kucoba mencari dokter lain. Saat diperiksa dokter ketiga ini, aku disarankan melakukan serangkaian tes. Salah satunya lewat USG. Dengan cemas kutanya, “Dok, apakah benjolannya berbahaya?”

Sayang si dokter tidak memberikan jawaban yang simpatik. “Harus segera dioperasi. Tidak boleh berlama-lama. Paling lama tiga minggu. Kalau kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh, artinya tidak ada harapan lagi.”

Aku yang panik, menanyakan sederet pertanyaan yang intinya ingin mengetahui lebih detail penyakitku. Tapi dokter tidak memberi jawaban yang memuaskan. “Baru bisa dijawab setelah operasi,” jawabnya tanpa basa-basi.

Ungkapan dan penjelasannya membuatku tidak simpati padanya. Sebenarnya, aku perlu dokter yang sanggup meredam ketakutanku. Wajar, aku, kan, awam soal kanker. Di keluargaku, tidak ada yang menderita kanker. Aku hanya membayangkan, kanker penyakit yang mematikan. Aku cemas, takut, bingung. Semua bercampur jadi satu. Dengan rasa marah, kuambil semua hasil lab yang tergeletak di meja dokter lalu kutinggalkan si dokter. Sempat kulontarkan ungkapan kejengkelanku padanya, “Kalau umur saya memang enggak panjang, akan saya cari sendiri kain kafan saya.”

Begitulah, sampai tujuh kali aku memeriksakan diri ke dokter berlainan. Aku ingin meredam semua kekalutanku. Tak satu pun dokter yang bisa memberi informasi seperti yang kubutuhkan, Kejengkelanku membuatku tidak kembali lagi ke dokter. Untuk melupakan penyakitku, aku kembali beraktivitas sebagai pengacara di lembaga yang kudirikan. (Bersambung....)

Editor: aegi   |   Sumber :Tabloid Nova Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.