KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Gara-gara Siomay Basi, 16 Warga Terkapar
Laporan wartawan KOMPAS Ratih P Sudarsono
Minggu, 8 November 2009 | 18:04 WIB
KOMPAS/ Ratih P Sudarsono
Tiga dari warga RT 6 RW 10 Kampung Sawah Tegal, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang keracunan siomay basi, saat menjalani perawatan di UGD RS PMI Bogor, Miggu (8/10) siang. Siomay mereka makan pada Jumat tengah malam.

BOGOR, KOMPAS.com — Sebanyak 16 warga RT 6 RW 10 Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, Kota Bogor, terpaksa dirawat di RS PMI Bogor dan Salak Bogor, Sabtu dan Minggu (8/11) karena keracunan siomay basi.

"Bumbunya enak, tapi siomay otak-otaknya sudah bau. Siomay lainnya enggak apa-apa," kata Satrio Slamet (19), yang sampai Minggu sore masih buang-buang air.

"Kepala juga masih pusing," lanjut dia, yang agak sempoyongan turun dari bangsal UGD RS  PMI untuk ke toilet di ruang UGD. "Sudah enggak terhitung, berapa kali saya berak-berak. Perut juga mules banget. Kalau muntahnya sih, enggak seberapa," tambah dia.

Satrio dan dua temannya pada Minggu siang masuk RS PMI. Adapun lima temannya dibawa ke RS Salak karena RS PMI kehabisan kamar rawat inap. Sebanyak delapan orang lainnya yang sudah lebih dulu dirawat di RS PMI mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan buang-buang air besar secara hebat yang timbul pada Sabtu pagi. Siangnya, mereka langsung dibawa ke RS PMI Bogor.

Alik Nurdin, Ketua RT 06, menuturkan bahwa siomay yang dimakan warga dibeli dari pedagang siomay keliling bersepeda yang kebetulan lewat pada Jumat tengah malam. Harganya Rp 2.000 per porsi, isi lima siomay. "Saya juga beli dan makan siomay, tapi alhamdulillah saya enggak kenapa-kenapa. Tetapi 16 warga saya kenapa-kenapa. Sabtu pagi mereka mulai merasa pusing dan mual sampai akhirnya harus di rawat di rumah sakit," katanya.

Menurut Alik Nurdin, hasil pemeriksaan laboratorium atas somay muntahan korban menunjukkan bahwa siomay tersebut tidak mengandung zat kimia beracun. "Siomay-nya saja yang sudah tidak layak konsumsi karena basi. Itu juga siomay yang jenis otak-otak yang dibuat dari ikan tongkol. Saya makan siomay sekitar pukul 01.00 karena iseng saja. Kan lagi begadang dengan warga," katanya.

Dokter jaga di UGD RS PMI  Bogor, dr Hamid Baso, yang menangani pasien keracunan somay tersebut mengatakan, dari gejala perut mulas lalu banyak buang-buang air, dapat diduga bahwa siomay yang dikonsumsi para korban mengandung bakteri. "Kalau keracunan karena zat kimia, gejalanya lain. Kalau ini, dilihat dari seringnya buang-buang air, lebih cenderung karena bakteri," katanya.

Editor: Glo Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.