Kondisi di jalan tersebut membuat pengendara stres, tidak sabar, ingin cepat lepas dari kemacetan, dan ingin lekas sampai tujuan. Dalam kondisi seperti itu, pengendara cenderung melanggar rambu lalu lintas.
”Jadi, bukan karena polisi tidak bisa bersikap keras. Setiap hari kami menindak 4.000-5.000 pengendara. Apakah ini belum menunjukkan sikap keras polisi?” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Condro Kirono, Minggu (8/11).
Menurut dia, sampai sekarang, setiap bulan 95 orang tewas karena kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh adalah pengendara dan pembonceng sepeda motor.
”Selama infrastruktur tidak diperbaiki dan jumlah kendaraan bermotor tidak dibatasi, jumlah kecelakaan lalu lintas di Jakarta akan tetap tinggi seperti sekarang,” tutur Condro.
Pada Sabtu (7/11) pukul 16.45, kecelakaan menimpa Rohadi (23) dan Endang (24). Keduanya terjatuh saat mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit bernomor polisi B 6316 UEQ. Sepeda motor itu terpeleset setelah melintasi tanah yang berceceran di jalan saat hendak menyalip truk yang mengangkut tanah itu di Jalan Tipar Cakung, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara.
Endang, yang dibonceng, tewas seketika. Kepala dan tubuhnya tergilas ban depan truk bernomor polisi B 9578 II yang dikemudikan Nelson Manurung (45). Rohadi luka memar dan patah tangan kanannya.
Subani (34), saksi, menjelaskan, motor yang datang dari arah Simpang Lima Semper menuju arah Cakung itu ingin menyalip truk yang searah dengannya. Namun, ia terjatuh karena jalan penuh ceceran tanah.
Kecelakaan kedua terjadi di depan Justus, di Jalan Raya Cakung-Cilincing, Semper Barat, Cilincing, pukul 17.00. Pengendara sepeda motor, Tugino (34), warga Bintara, Bekasi, menjadi korban tabrak lari truk peti kemas. Korban tewas seketika dan mayatnya dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo.
Briptu Supriyadi, petugas lalu lintas Polres Jakarta Utara, menuturkan, kedua kasus sudah ditangani.

