Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 21:15 WIB
Empang Diuruk, Puluhan Rumah Terendam
| jimbon | Kamis, 12 November 2009 | 07:35 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan rumah di  RT 09 dan 11 di RW 01 Kelurahan/Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, sejak Selasa petang hingga Rabu (11/11), terendam hingga sepinggang orang dewasa, setelah hujan lebat turun, Selasa sore. Genangan air itu diduga akibat resapan air berupa  empang di kawasan itu diuruk.

Akibatnya, pada Selasa petang itu, warga pun mengungsi ke kantor Kelurahan Duren Sawit yang berjarak sekitar 300 meter. Hingga Rabu pukul 16.00, air masih setinggi 20-25 sentimeter (cm).

Rohati (45), warga RT 9 RW 1 yang ditemui kemarin mengatakan, warga mulai mengungsi ke kantor kelurahan mulai pukul 18.00. ”Ada 50 kepala keluarga (KK) yang mengungsi ke kantor kelurahan. Barang-barang saya sebagian masih di sana,” ucapnya.

Rabu sore, rumah Rohati tampak masih terendam air setinggi 20 cm. Belasan rumah lainnya juga terendam. Beberapa penghuni rumah tampak  menguras air yang menggenangi ruang tamu. Belasan perabot rumah tangga dikeluarkan untuk dijemur.

Edy Siswoyo (51), warga lainnya, mengatakan, total rumah yang terendam mencapai 60 rumah. Menurut dia, baru kali ini rumah warga terendam hingga sepinggang orang dewasa setelah hujan lebat selama satu jam.

”Ini gara-gara empang kolam pemancingan ikan seluas 3.000 meter persegi diuruk,” ujar Edy. Karena diuruk, tempat pembuangan air  pun hilang. Air tak bisa lagi mengalir ke empang itu. Maka ketika  hujan lebat, air pun langsung menyebar ke permukiman penduduk.

Saluran air

Menurut Edy, sebenarnya warga pernah urunan Rp 10.000 setiap KK untuk membuat saluran pembuangan ke banjir kanal timur (BKT) yang sedang dalam proses pengerukan. Untuk diketahui, lokasi permukiman padat penduduk itu persis di sisi selatan BKT yang saat ini sedang dikerjakan.

”Warga sudah tiga kali membuat saluran pembuangan, tetapi tiga kali pula si penguruk tanah menimbun saluran,” tegas Edy.

Ia mengatakan, baru Rabu pagi kemarin backhoe milik pengelola BKT membuatkan saluran air langsung ke BKT. Tetapi, saluran pembuangan itu belum membuat genangan air hilang. Lurah Duren Sawit, Yogi Metro Peni yang ditemui di kantor kelurahan kemarin menjelaskan, empang itu memang diuruk oleh pemiliknya. 

”Karena ini bukan soal tanah negara, saya tidak mau ikut campur persoalan yang terjadi di antara warga sekitar dengan pemilik tanah. Yang saya lakukan selama ini, memediasi masalah yang timbul di antara mereka,” papar Peni.

Sejumlah warga yang ditemui mengaku, rumah mereka memang berdiri di atas tanah garapan yang bukan miliknya.

Perahu-perahu karet

Pada bagian lain Peni mengatakan, dirinya tidak keberatan kantor kelurahan dijadikan tempat pengungsian warga. ”Silakan saja. Saya terbuka. Tapi mesti tertib dan tidak mengganggu tugas rutin kami di kelurahan,” tandasnya.

Di tempat lain, Wakil Walikota Jaktim Asep Syarifudin kepada wartawan menjelaskan, menghadapi kemungkinan banjir, pemerintah kota di wilayahnya telah menyiapkan 29 perahu karet, 130 mobil, dan 61 sepeda motor.

"Saya telah memeriksa kelayakan seluruh perangkat banjir. Hasilnya antara lain yang saya jelaskan tadi,” ucapnya. Asep menambahkan, masih sekitar lima persen dari total mobil dan sepeda motor dinas yang harus diperbaiki.

Titik banjir terbesar di Jaktim  berada di Kelurahan Kampung Melayu dan Cawang. Di Jakarta Selatan di Kelurahan Bukit Duri, Bintaro, Pondok Karya, dan Petukangan Selatan. Di Jakarta Barat Kelurahan Rawa Buaya, Kapuk, dan Tegal Alur, sedang di Jakarta Utara di Sunter Agung, Penjaringan, Rawa Badak, Koja, Kapuk Muara. (WIN)

Sumber :
Kompas Cetak