Selasa, 14 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 14 Februari 2012 | 18:39 WIB
Mahasiswi Setia Akan Tidur di Jalan walau Musim Hujan
Frans Agung Setiawan | hertanto | Jumat, 13 November 2009 | 13:56 WIB
|
Share:

FRANS AGUNG
2 dari 6 balok bekas Kantor Walikota Jakarta Barat sudah rata dengan tanah. Sasaran perobohan berikutnya adalah blok 3, yang mana blok 3-6 masih dihuni oleh mahasiswa Setia yang berjumlah seribu orang, Jumat (13/11).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah banyak usaha yang dilakukan Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (Setia) supaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memerhatikan nasib mereka, mulai dari beberapa kali unjuk rasa, mogok makan, hingga aksi jahit mulut.

"Namun, kami punya kesan (Pemerintah Provinsi) DKI (Jakarta) lepas tangan," kata Yusup Lifire, Ketua Pelaksana Harian Setia, di kompleks bekas kantor Wali Kota Jakarta Barat, Jumat (13/11).

Menurut dia, pada Senin lalu Yayasan Setia telah berdialog dengan Pemprov DKI. Yayasan mengusulkan dua alternatif untuk memindahkan mahasiswa Setia dari bekas kantor Wali Kota Jakbar karena akan dibongkar oleh Yayasan Saweri Gading sebagai pemilik sah lahan di situ.

"Semua usulan tersebut ditolak dengan alasan yang menurut saya tidak kuat," ungkap Yusup.

Usulan pertama, Yayasan Setia meminta dikembalikan ke kampus dan asrama mereka di Kampung Pulo, Kecamatan Makasar, Jaktim. Setidaknya untuk dua tahun sambil menunggu pembangunan tempat baru.

"Jawabannya, tidak bisa karena (masalah) keamanan. Ini alasannya tidak terlalu kuat. (Masalah kemanan di) Ambon dan Papua saja bisa (diatasi), kenapa daerah kecil saja tidak bisa," ujar Yusup.

Usulan kedua, menyewa tanah 1 hektar di wilayah Buperta Cibubur. Di lahan tersebut dibangunlah bangunan semipermanen untuk menyelenggarakan perkuliahan dan tempat tinggal sementara. Kembali Pemprov DKI menolaknya dengan alasan Buperta mengatakan, itu bukan tempat hunian sementara.

"Namun, waktu tanya Buperta, mereka keberatan karena Pemprov tidak mau bayar tunggakan yang lalu," ujar Yusup.

Setelah kampus dan asrama mereka di Kampung Pulo ditutup paksa oleh warga, mahasiswa mengungsi ke bekas kantor Wali Kota Jakbar, bekas kantor Transmigrasi Kalimalang, dan di Buperta. Namun, semenjak dua bulan terakhir mahasiswa yang berada di Buperta diminta untuk keluar dan bergabung ke bekas kantor Wali Kota Jakbar. Adapun proses pembongkaran gedung terus berlanjut.

Pengamatan Kompas.com, blok 1 dan 2 sudah mulai rata dengan tanah. Para pekerja mulai memisahkan besi-besi kerangka bangunan untuk dijual. Blok berikutnya yang dalam waktu dekat akan dibongkar adalah blok 3. Di blok ini tinggal para mahasiswi Setia.

"Yang kami tempati blok 3-6. Kami tidak akan melawan karena ini bukan punya kami. Paling ya tidur di jalan walau musim hujan. Ya, mau ke mana lagi," ujar Yusup Lifire.

Advertorial
»