“Beberapa waktu lalu kita telah melakukan apel kesiagaan banjir, mulai dari warga, LSM dan pemangku kepentingan di
Menurut Foke, panggilan akrabnya, tidak hanya apel yang dilakukan, tetapi pihaknya telah melakukan pelatihan menghadapi banjir bagi masyarakat di daerah rawan banjir. Selain itu, di daerah tersebut telah disediakan tempat penampungan, tim kesehatan, dapur umum, dan PMI. “Misalnya di Kampung Pulo, kalau air naik mereka sudah tahu naik ke mana,” ujar Foke.
Untuk antisipasi banjir, ia melanjutkan, Pemda telah memasang peringatan dini terjadap banjir di Sungai Ciliwung sehingga penduduk di Kampung Pulo bisa tahu bahwa daerahnya berpotensi banjir sejak 6-12 jam sebelumnya. “Namun, hal seperti ini selalu (tetap) diingatkan,” ucap Foke.
Lebih jauh, suami Sri Hartati ini mengungkapkan bahwa penanganan banjir diperlukan untuk jangka panjang. Hal itu terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah bantaran kali. Belajar dari pengalaman, upaya untuk memindahkan mereka ke rumah susun ternyata tidak efektif. Pasalnya, mereka kembali tinggal kembali di bantaran kali, seperti halnya masyarakat di daerah Jembatan Kampung Melayu yang sempat direlokasi ke rumah susun Bidaracina. “Kalau jalan ini yang akan kita tempuh, tidak akan habis-habisnya karena kembali ke bantaran kali lagi. Untuk ke depan, programnya harus tepat sasaran,” ungkap Foke.
Namun, ia menambahkan, biayanya memang tidak sedikit. Maka dari itu, ia berharap persoalan bisa dipecahkan bersama pemerintah pusat. “(Pemda) sudah bicara pada Menteri Perumahan Rakyat untuk struktur yang akan datang,” pungkasnya.
