Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 21:46 WIB
PLN Sumut Merugi Rp 8 Triliun
Khaerudin | made | Jumat, 13 November 2009 | 17:58 WIB
|
Share:

MEDAN, KOMPAS.com — Perusahan Listrik Negara (PLN) Wilayah Sumatera Utara diperkirakan merugi hingga Rp 8 triliun sampai akhir tahun 2009. Kondisi ini terjadi akibat masih tingginya harga rata-rata produksi listrik dari pembangkit berbahan bakar minyak solar, baik jenis high speed diesel maupun marine fuel oil. Di sisi lain, jumlah tunggakan rekening listrik pelanggan hingga akhir Oktober ini mencapai Rp 37 miliar.

Menurut General Manager PLN Wilayah Sumut Manerep Pasaribu, biaya pokok produksi (BPP) listrik di Sumut pada semester pertama tahun 2009 rata-rata mencapai Rp 1.700 per kWh. Dengan harga jual listrik rata-rata ke pelanggan sebesar Rp 650 per kWh, menurut Manerep, kerugian PLN Wilayah Sumut hingga akhir tahun 2009 bisa mencapai Rp 8 triliun. "Kerugian itu juga merupakan nilai subsidi yang diterima PLN dari pemerintah," ujar Manerep di Medan, Jumat (13/11).

Tingginya BPP listrik di Sumut karena hampir 75 persen pembangkit listrik yang ada di sistem Sumut menggunakan BBM. Data pemakaian energi primer dari PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara mencatat, penggunaan solar jenis high speed diesel (HSD) mencapai 54 persen, solar jenis marine fuel oil (MFO) sebanyak 21 persen, batu bara sebesar lima persen, gas dan air masing-masing 10 persen. Total daya mampu listrik Sumut, menurut Manerep, saat ini mencapai 1.300 megawatt (MW).

Manerep mengatakan, PLN sebenarnya cukup terbantu saat PLTU Labuhan Angin yang berkapasitas 2 x 115 MW sudah beroperasi penuh bulan Juli lalu. Masuknya PLTU Labuhan Angin ini, menurut Manerep, diperkirakan bisa menekan BPP listrik di Sumut pada semester dua tahun ini hingga Rp 1.500 per kWh. Manerep mengungkapkan, dengan beroperasinya PLTU Labuhan Angin secara penuh, pada tahun 2010 nanti kerugian PLN dapat ditekan hingga Rp 5 triliun.

Deputi Hukum dan Komunikasi PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Marodjahan Batubara mengatakan, BPP listrik dari PLTU Labuhan Angin mencapai Rp 625 per kWh. Tak berbeda jauh dengan harga jual rata-rata listrik PLN ke pelanggannya.

Manerep mengatakan, rencana masuknya PLTU Sumut dengan kapasitas 2 x 200 MW pada tahun 2011 dapat menekan BPP hingga di bawah Rp 1.000 per kWh. PLTU Sumut merupakan bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW tahap pertama. "Kalau BPP sudah turun hingga Rp 1.000 per kWh, kemungkinan PLN bisa menekan kerugian hingga 50 persen dari kerugian saat ini," katanya.

Terkait kerugian PLN Wilayah Sumut, Manerep juga menuturkan, hingga akhir Oktober, jumlah tunggakan rekening pelanggan di Sumut sudah mencapai Rp 37 miliar. Dia mengakui, PLN sangat dilematis dalam menyikapi persoalan tunggakan rekening pelanggan ini. Menurut dia, rata-rata pelanggan enggan membayar rekeningnya dengan alasan seringnya pemadaman bergilir. "Pelanggan sering beralasan, mereka malas bayar rekening karena sering mati lampu," katanya.

Menurut Manerep, PLN saat ini menjalin kerja sama dengan kejaksaan untuk memutus aliran listrik dari pelanggan yang menunggak hingga tiga bulan lebih. PLN, lanjut dia, berusaha menekan angka tunggakan rekening pelanggan hingga Rp 10 miliar pada tahun ini. Kerja sama dengan kejaksaan dinilai Manerep cukup efektif. "Pelanggan yang menunggak rekening, begitu kami kirimi surat panggilan, langsung membayar seluruh tagihannya," katanya.