Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:39 WIB
Jepang-DIY Jajaki Kerja Sama Penanganan Gempa
Lukas Adi Prasetya | made | Jumat, 13 November 2009 | 19:21 WIB
|
Share:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Jepang dan Pemerintah Provinsi DIY menjajaki kerja sama dalam hal penanganan gempa. Pengalaman dan teknologi Negeri Sakura yang kerap dilanda gempa dan berhasil melewatinya, akan banyak membantu Yogyakarta.

DIY dan daerah-daerah di Jepang mempunyai banyak kesamaan sebagai daerah rawan gempa. Kota Kobe di Jepang, pernah mengalami gempa besar, demikian juga DIY pada Mei 2006 lalu. Belajar dari pengalaman, kini, Kobe memiliki pusat trauma dan krisis gempa.

Masyarakat Jepang pun, sudah paham bagaimana cara menghadapi gempa sehingga aman. Duta Besar Jepang Kojiro Shiojiri, menyampaikan hal itu saat bertemu dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Jumat (13/11). "Kaisar Jepang menghargai upaya Sultan dalam penanganan gempa, dan upaya Yogyakarta membantu daerah lain yang dilanda gempa, juga saat Yogya membantu gempa di Padang, Sumatera," ujar Kojiro.

Menurut Kojiro, setelah Kobe dilanda gempa 10 tahun lalu, pemerintah bersama lembaga swadaya (LSM) setempat bekerja sama. Lahirlah beberapa kebijakan, seperti pendirian bangunan ba u harus tahan gempa. Minimal sekolah dan rumah sakit harus benar-benar teruji tahan gempa. Jika terjadi gempa, rumah sakit dan sekolah akan menjadi tujuan pertama menyelamatkan diri.

"Bangunan-bangunan yang paling tahan gempa adalah rumah sakit dan sekolah, karena gedung tersebut untuk merawat korban gempa dan tempat pengungsian apabila terjadi gempa," kata Kojiro.

Sultan ingin tahu lebih jauh bentuk kelembagaan dan standarisasi bangunan di Jepang. Sultan berharap Jepang bisa mengirim tenaga ahli. Beberapa hal masih perlu dikaji, misalnya material apa saja yang aman untuk bangunan, dan upaya edukasi pada masyarakat.

"Bahan aluminium misalnya, memang ringan, namun perlu diteliti kekuatannya. Kalau terjadi gempa, patah atau tidak," kata Sultan.

Demikian juga kemungkinan pengembangan bahan atau material bangunan tahan gempa perlu juga dikaji. Seperti penggunaan partikel board, yang ringan, tahan hujan dan panas, dan tidak membahayakan penghuni rumah. Begitu pula dengan kemungkinan mengganti bat u bata dengan bahan lain yang kuat namun ringan, termasuk bahan pengganti genteng.

Sultan juga ingin memperoleh informasi yang komprehensif mengenai kebijakan yang diambil Jepang, baik itu di tingkat Pemerintah Pusat, Provinsi atau Kabupaten. "Bagaimana konsultan arsitektur dalam membuat rancangan bangunan bisa penuhi standar tahan gempa. Materialnya apa, kita bisa kontrol. Kami belum punya pengalaman," kata Sultan.

Kojiro berharap kerja sama Jepang-DIY bisa ditingkatkan misalnya mengembangkan Yogyakarta sebagai pusat studi gempa di Indonesia. Pengalaman Yogya yang berhasil menangani gempa besar tahun 2006, dikarenakan Yogya mempunyai modal sosial berupa eratnya hubungan antarwarga. Ini perlu diadopsi daerah lain.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs. Tavip Agus Rayanto, mengatakan, DIY perlu mendapat banyak informasi dan teknologi agar siap mengantisipasi gempa. "Di Jepang, penduduknya siap jika sewaktu-waktu terjadi gempa. Mereka tahu lari ke mana, berlindung di mana, dan apa saja cara bertahan," kata Tavip.