KOMPAS.com - Usman (47) hanya terduduk lesu. Dia tidak peduli pada butiran-butiran hujan yang menghujam tubuhnya dengan deras. Kalau saja dia bisa berteriak dan menangis, tentu hal itu sudah dilakukannya. Usman, pedagang kaki lima yang sudah 10 tahun berjualan sepatu di Lorong 104, Koja, Jakarta Utara, tidak bisa berbuat apa-apa ketika petugas Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Utara mengangkut lapak sepatunya, Jumat (13/11) sore. Sekitar 30 pedagang mencoba menggelar dagangannya kembali di lorong itu. Namun, ketika pedagang sudah mulai menggelar, tiba-tiba sekitar 120 petugas Satpol PP datang dan mengambil barang dagangan mereka. Tidak ada imbauan dari Satpol PP kepada pedagang. Mereka langsung saja mengambil lapak dan gerobak milik pedagang. Empat gerobak dan enam lapak disita petugas. Pedagang yang lain berhasil membawa lari barang dagangannya. Sudah dua hari Usman tidak bisa berdagang karena kawasan tempat dia biasa berdagang kini sedang diubah Pemerintah Provinsi Jakarta untuk dikembalikan fungsinya menjadi jalan umum. Pada hari ketiga, dia tidak bisa lagi berdiam diri. Istri dan dua anaknya di rumah butuh uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. ”Berdagang adalah satu-satunya kemampuan kami untuk bertahan hidup. Jika kami tidak bisa berdagang, bagaimana nasib kami,” kata Usman. Omzet penjualan Usman bisa mencapai Rp 500.000 per hari. Dari omzet itu, Usman bisa dapat Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Uang ini cukup untuk kebutuhan Usman sekeluarga. Usman bersama 700 pedagang lainnya memenuhi Lorong 104 itu untuk berjualan. Mereka berjualan di bawah kanopi biru besar yang menaungi lorong itu dari panas dan hujan. Dari Jalan Yos Soedarso terlihat tulisan Sentra Pedagang Kecil Permai tertulis di kanopi. Kawasan Lorong 104 memang sudah menjadi pusat keramaian sejak tahun 1960-an. Di lorong itu dulu ada bioskop Permai yang jadi magnet anak muda datang ke sini. Kawasan ini tidak pernah tidur. Setelah bioskop itu gulung tikar, kawasan ini tetap ramai. Betrizal, salah seorang pengurus Sentra Pedagang Kecil itu, mengatakan, ketika lorong ini banjir, pembeli tetap datang. ”Tidak pernah ada kata libur di kawasan ini. Andaikan saja untuk datang di kawasan ini harus menggunakan perahu karena banjir, pedagang akan tetap berjualan. Sebab, selalu saja ada pembeli yang datang,” kata dia. Kini setelah pedagang digusur dari Lorong 104, pemerintah hendaknya segera membagikan dan membereskan lokasi yang baru agar para pedagang ini bisa segera mendapatkan nafkah mereka.